SULAWESI UTARA — Gelombang hengkangnya para petinggi ini terjadi di saat yang krusial. OpenAI baru saja mengajukan dokumen IPO secara rahasia ke SEC pada Juni lalu, dan kini tengah merombak organisasi untuk fokus mengejar pendapatan serta memangkas proyek yang dianggap tidak produktif.
Menurut laporan TechCrunch, Chris Malone, kepala pusat data yang baru bergabung pada Maret 2024, juga telah pergi pekan lalu. Kepergiannya disebut terkait reorganisasi tim infrastruktur yang kini berada di bawah kendali langsung Greg Brockman.
Beberapa pengunduran diri memang dilatarbelakangi masalah kesehatan, namun sebagian besar lainnya merupakan efek dari kebijakan efisiensi yang diinstruksikan CEO Sam Altman. Altman secara terang-terangan mengakui dua belas bulan terakhir merupakan periode yang buruk bagi perusahaan.
Alih-alih mempertahankan berbagai divisi eksperimental, Altman memilih merampingkan organisasi. Akibatnya, sejumlah eksekutif senior yang sebelumnya memimpin divisi besar kini harus turun pangkat atau kehilangan peran strategisnya—situasi yang membuat banyak dari mereka memilih hengkang.
Nama Greg Brockman bukanlah sosok baru di OpenAI. Sebagai salah satu pendiri, ia berperan besar dalam membangun infrastruktur awal perusahaan sebelum menyerahkan posisi CEO kepada Altman pada 2019.
Setelah sempat mengambil cuti panjang pada 2024, Brockman kini kembali dengan posisi yang lebih kuat. Tim infrastruktur dan produk kini melapor langsung kepadanya. Thibault Sottiaux, pemimpin layanan API dan aplikasi, bahkan menyatakan kepada TechCrunch bahwa "semua orang pada akhirnya melapor ke Greg."
Sebelum dikenal di OpenAI, Brockman dikenal luas karena membangun bisnis Stripe. Kini, pengalamannya itu dinilai tepat untuk mendorong strategi go-to-market OpenAI menjelang penawaran umum perdana.
Rencana IPO ini menjadi bayang-bayang di balik setiap keputusan internal. OpenAI menargetkan melantai di bursa pada 2027, jauh lebih lambat dari rata-rata perusahaan yang biasanya butuh waktu sekitar lima bulan setelah pengajuan rahasia.
Tekanan semakin besar karena rival utama, Anthropic, juga berencana go public dan dikabarkan sudah membukukan profit. Sebaliknya, laporan internal menunjukkan kerugian OpenAI justru membengkak seiring naiknya pendapatan.
Kondisi ini memaksa perusahaan untuk memangkas beban operasional dan mencari pemimpin yang bisa mempercepat monetisasi. Brockman, dengan rekam jejaknya di Stripe dan pemahaman mendalam soal infrastruktur, dinilai sebagai sosok yang tepat untuk mengisi kekosongan tersebut.
Bagi pengamat industri, kembalinya Brockman ke posisi sentral menandai babak baru yang lebih pragmatis bagi OpenAI. Perusahaan tidak lagi hanya berlomba menjadi yang terdepan dalam riset AI, tetapi juga harus membuktikan diri sebagai bisnis yang sehat secara finansial di mata investor publik.