SULAWESI UTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,21% dan inflasi tahunan 3,19%. Angka inflasi tahun kalender Januari-Agustus mencapai 1,86%.
Yang jadi sorotan justru kelompok volatile food. Inflasi bulanannya 0,88% dan tahunannya 4,06% — di atas inflasi umum. Tiga komoditas penyumbang utamanya: daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) rata-rata Juni-Juli-Agustus 2026 berada di level 2,2. Level itu menandakan intensitas El Nino sangat kuat.
Dampaknya bukan cuma soal produksi pangan. Kebutuhan energi untuk pendinginan ikut naik, menambah beban biaya di sisi hilir.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai respons terhadap tekanan harga harus disesuaikan dengan karakteristik risiko tiap wilayah. Daerah yang menghadapi kekeringan dan gangguan distribusi butuh penanganan berbeda dari daerah yang pasokannya lancar.
Dari sisi pasokan, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencatat penjualan 758 ribu ton beras hingga 7 September 2026. Angka itu setara 91,55% dari alokasi 828 ribu ton.
Pemerintah kemudian menambah alokasi beras SPHP medium sebanyak satu juta ton untuk periode Oktober-Desember. Tujuannya agar beras harga terjangkau tetap tersedia hingga penghujung tahun.
Bantuan pangan beras untuk Juli-September disiapkan 997,2 ribu ton bagi 33,24 juta penerima. Setiap penerima mendapat 10 kilogram per bulan. Untuk triwulan IV-2026, pemerintah menyiapkan sekitar Rp17 triliun bagi 33,2 juta keluarga miskin atau kurang mampu.
Bhima menilai Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu kemampuan mendeteksi gangguan pasokan sejak awal. Dengan sistem peringatan dini yang lebih kuat, pemerintah daerah bisa langsung mengarahkan anggaran dan intervensi ke wilayah yang tertekan.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menekankan pentingnya menjaga ketersediaan barang dan kelancaran distribusi. Pemantauan stok beras, cabai, dan daging ayam perlu dilakukan berkala agar kekurangan pasokan tidak berubah jadi lonjakan harga.
Intervensi yang bisa dipakai ketika harga kebutuhan pokok mulai naik: pasar murah, subsidi distribusi, dan bantuan sosial tepat sasaran. Kebijakan itu penting untuk menjaga konsumsi kelompok berpendapatan rendah.
Risiko inflasi tidak hanya dari pangan. Harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$105 per barel, meningkatkan potensi tekanan dari sektor energi.
Kenaikan harga energi mendorong biaya transportasi dan logistik naik, yang akhirnya merembet ke harga barang. Bhima mendorong percepatan transisi energi agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada fluktuasi minyak dunia.
Pemerintah dan Bank Indonesia memakai strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Kombinasi penguatan pasokan, respons daerah yang lebih cepat, perlindungan sosial, dan pengendalian energi diharapkan menahan tekanan inflasi tanpa mengganggu daya beli dan momentum pertumbuhan ekonomi.
Investasi mengandung risiko.