SULAWESI UTARA — Kelangkaan beras premium kemasan 5 kilogram di sejumlah daerah memicu kekhawatiran konsumen dan berpotensi mendorong perilaku panic buying. Guru Besar Perilaku Konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menilai keputusan membeli kini tidak lagi semata didasarkan pada kebutuhan, melainkan rasa takut kehabisan stok. Fenomena ini menyoroti pentingnya kejelasan informasi pasokan dan harga dari pemerintah agar konsumen tidak mengambil keputusan berdasarkan rumor.
Kemasan 5 kilogram menjadi ukuran yang paling banyak diburu rumah tangga karena dianggap pas untuk kebutuhan harian dan masih terjangkau untuk sekali belanja. Ketika ukuran ini mulai sulit ditemukan, konsumen cenderung bergerak cepat sebelum barang benar-benar habis.
Prof Megawati menjelaskan, beras kemasan 5 kg menempati posisi khusus di kebiasaan belanja rumah tangga Indonesia. Ukurannya dinilai lebih praktis disimpan dibandingkan kemasan besar, dan variasi mereknya banyak sehingga konsumen punya preferensi masing-masing.
"Kemasan 5 kg lebih praktis disimpan dibandingkan kemasan yang lebih besar. Lalu biasanya ukuran 5 kg ini mereknya banyak dan konsumen punya preferensi sendiri untuk beras yang disukai, sehingga banyak konsumen lebih memilih kemasan 5 kg," ujarnya, dikutip dari situs IPB University.
Karena itu, ketika ukuran yang biasa dibeli sulit ditemukan, konsumen tidak selalu merespons dengan kepanikan. Sebagian memilih produk pengganti yang masih dianggap sesuai.
Menurut Prof Megawati, ada dua pola perpindahan yang mungkin terjadi. Pertama, konsumen beralih ke ukuran kemasan lain dari merek yang sama, misalnya kemasan 10 kg. Pilihan ini memungkinkan konsumen tetap mendapatkan merek yang biasa dikonsumsi, meskipun pengeluaran sekali pembelian menjadi lebih besar.
Kedua, konsumen beralih ke pilihan yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, seperti beras SPHP dari Bulog yang harganya lebih terjangkau. "Ada dua arah perpindahan yang mungkin terjadi terkait fenomena ini," jelasnya.
Prof Megawati menegaskan, kondisi ini tidak serta-merta berarti persediaan beras nasional habis atau mengalami kekurangan. Persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan biaya produksi maupun distribusi.
Namun, informasi kelangkaan yang terus bermunculan dapat memengaruhi persepsi konsumen dan berpotensi memicu panic buying. Dalam kondisi seperti ini, keputusan membeli tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga kekhawatiran akan semakin sulitnya memperoleh produk.
Dari perspektif perilaku konsumen, Prof Megawati mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun beras.
"Masyarakat tidak perlu terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun. Beli sesuai kebutuhan saja. Kalau merek yang biasa dibeli tidak tersedia, bisa mempertimbangkan alternatif yang kualitas dan harganya masih sesuai," ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan informasi mengenai ketersediaan dan harga beras disampaikan secara jelas kepada masyarakat. Langkah ini penting agar konsumen tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor atau kekhawatiran akan kehabisan stok.