SULAWESI UTARA — Observatorium Swift milik NASA diperkirakan memasuki atmosfer Bumi pada Jumat (6/11) setelah upaya penyelamatan darurat dengan robot Link gagal. Teleskop seberat sekitar 1,5 ton itu jatuh lebih cepat akibat aktivitas Matahari yang intens, dengan sebagian wilayah Afrika, Australia, India, dan Asia Tenggara berada di zona re-entry.
U.S. Space Force memantau jalur jatuh Observatorium Swift yang semakin mengecil dari hari ke hari. Badan pertahanan antariksa Amerika Serikat itu memperkirakan teleskop berukuran besar tersebut menghantam atmosfer pada Jumat (6/11) atau sekitar waktu tersebut.
Sebagian besar material Swift diperkirakan terbakar habis saat memasuki atmosfer. Namun komponen berbahan lebih kuat seperti tungsten dan bagian cermin berpotensi bertahan hingga permukaan.
Puing yang tersisa kemungkinan besar jatuh ke lautan. Meski begitu, sebagian besar wilayah Afrika, Australia, India, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dan Selatan berada dalam re-entry zone yang dipantau otoritas.
Kepala ilmuwan misi Brad Cenko dari NASA menyatakan sebagian besar bagian teleskop sebesar satu setengah ton mungkin akan terbakar di atmosfer. Material yang lebih kuat seperti tungsten atau beberapa bagian cermin diperkirakan masih bertahan.
Aktivitas Matahari yang terlalu intens disebut sebagai salah satu penyebab teleskop itu jatuh lebih cepat. Pada akhir Oktober, ketinggian Swift terus merendah dan kehilangan kestabilan hingga sistemnya dimatikan.
John Nousek, astronom yang memimpin tim pengendali, menyebut akhir perjalanan Swift sudah diperkirakan sejak lama.
"Kami sudah tahu hari ini akan tiba bahkan sebelum Swift diluncurkan. Setidaknya di orbit Bumi rendah, sesuatu yang naik pasti akan turun. Dan akhir seperti ini merupakan bencana," kata Nousek.
NASA bersama Katalyst Space mengupayakan penyelamatan darurat sejak tahun lalu. Robot berlengan tiga milik Katalyst Space, Link, diluncurkan pada Juli, tetapi mengalami masalah dan hanya mampu mendekati teleskop hingga jarak 12 sampai 15 kilometer sebelum jatuh kembali ke Bumi pada September.
Setelah upaya penyelamatan dibatalkan, Swift sempat melanjutkan pengamatan dan justru menemukan lebih banyak semburan sinar gamma serta peristiwa berenergi sangat tinggi lainnya.
Swift diluncurkan pada 20 November 2004 untuk memburu ledakan terbesar di alam semesta, termasuk semburan sinar gamma dan supernova. Selama 22 tahun mengorbit, teleskop yang mampu berputar cepat ke arah peristiwa ledakan antariksa itu membantu ilmuwan menemukan lebih dari 2.000 semburan sinar gamma dan 1.400 bintang yang meledak, belum termasuk sejumlah komet, asteroid, dan lubang hitam yang menghancurkan bintang.
NASA menyebut Swift merupakan wahana antariksa yang memberi sinyal pertama ke teleskop Hubble dan Webb serta teleskop lainnya. Dari sinyal tersebut, teleskop-teleskop lain mengikuti peringatannya dan melakukan investigasi lebih mendalam.
Para ilmuwan kini tengah mencari cara untuk mendapatkan pengganti teleskop Swift. Nousek berharap pelajaran dari keberhasilan Swift dapat diterapkan pada generasi baru misi luar angkasa.
"Dengan tulus, harapan kami adalah bahwa pelajaran yang dipetik dari keberhasilan Swift ini dapat diterapkan pada generasi baru misi luar angkasa untuk mempercepat penemuan kita tentang alam semesta," kata Nousek.