Pencarian

Kongres Dikuasai Demokrat, RI Waspadai Dampak ke Ekonomi dan Harga Minyak

Jumat, 06 November 2026 • 09:19:01 WIB
Kongres Dikuasai Demokrat, RI Waspadai Dampak ke Ekonomi dan Harga Minyak
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pemantauan pemerintah terhadap dampak hasil pemilu sela AS dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11).

SULAWESI UTARA — Pemerintah Indonesia memantau dampak kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat terhadap kebijakan ekonomi dan geopolitik global. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pergeseran peta politik di Kongres dan Senat AS akan memengaruhi arah kebijakan yang membayangi pasar Indonesia.

Pemantauan dilakukan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian setelah Partai Demokrat mengambil alih kendali dua majelis tertinggi Kongres AS, yakni Senat dan Dewan Perwakilan. Airlangga Hartarto menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (5/11).

Menurut Airlangga, perubahan komposisi politik di Washington tidak berhenti pada urusan domestik AS. Dampaknya merambat ke kebijakan perekonomian maupun geopolitik global yang menjadi acuan negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kita juga memonitor midterm election di Amerika. Kita lihat bahwa Kongres maupun Senat dikuasai oleh Demokrat. Tentu ini akan berakibat terhadap kebijakan-kebijakan perekonomian maupun geopolitik global," ujar Airlangga.

Tekanan Suku Bunga The Fed dan Yield US Treasury Masih Membayangi

Selain hasil pemilu sela, pemerintah mencermati sejumlah indikator makroekonomi global yang masih menekan pasar. Suku bunga The Fed berada di kisaran 3,75 hingga 4 persen, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertengger di level 4,86 persen.

Inflasi global tahun ini tercatat 4,7 persen dan diperkirakan melandai ke 4,1 persen pada tahun depan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia berada di angka 3,1 persen, dengan perkiraan naik ke 3,4 persen tahun depan.

Bagi investor Indonesia, kombinasi yield Treasury yang tinggi dan suku bunga Fed yang belum turun menjadi faktor penentu arah aliran modal asing. Keduanya kerap memicu tekanan pada kurs rupiah dan obligasi negara berkembang.

Harga Minyak Sentuh US$117, Kini Terkoreksi ke Bawah US$100

Pemerintah memberi perhatian khusus pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh US$117 per barel pada akhir Oktober. Fluktuasi itu dinilai masih dalam batas aman Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

"Terkait dengan situasi global, kami melihat untuk energi relatif harga pembelian kita di sektor energi di bawah 100 dolar, sekitar 93 dolar. Jadi, sampai dengan akhir tahun relatif gejolak energi itu terserap oleh APBN," ujar Airlangga.

Pada perdagangan awal Kamis (5/11), harga minyak mentah berjangka Brent turun 97 sen atau 1,03 persen menjadi US$93,65 per barel pada pukul 02.11 GMT atau 09.11 WIB. Sementara itu, minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate turun US$1,14 atau 1,29 persen ke level US$86,98 per barel.

Kekalahan Republik Buka Peluang Damai dengan Iran

Laporan Reuters menyebut penurunan harga minyak didorong ekspektasi pasar merespons kekalahan Partai Republik pimpinan Presiden AS Donald Trump. Dengan Kongres dikuasai Demokrat, opsi militer AS terutama terkait konflik dengan Iran diproyeksikan jauh lebih terbatas.

Dua sumber Reuters yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk pada Rabu (4/11) mengungkap dinamika politik itu memberi dorongan lebih besar bagi Trump untuk mencari kesepakatan damai. Menurut sumber tersebut, kemungkinan serangan skala penuh terhadap Iran kini makin kecil.

Potensi resolusi konflik diyakini mampu memulihkan aliran pasokan minyak dari Timur Tengah. Bagi Indonesia, pasokan energi yang lebih lancar dapat menahan risiko lonjakan harga minyak impor yang selama ini menjadi beban APBN dan neraca dagang.

"Pasar sedang menakar dampak pemilu paruh waktu (midterm elections) terhadap langkah Trump selanjutnya terkait perang Iran dan memperhitungkan peluang yang lebih besar bagi berakhirnya perang tersebut," ujar Analis Minyak Senior Sparta Commodities June Goh.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi pelaku usaha, sinyal yang perlu dicermati adalah arah kebijakan energi dan nilai tukar. Harga minyak yang bertahan di bawah US$100 menurunkan tekanan biaya operasional sekaligus memberi ruang bagi pemerintah menahan penyesuaian harga energi bersubsidi.

Di sisi lain, yield US Treasury 10 tahun di level 4,86 persen masih menjadi magnet bagi modal asing. Selama selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara Indonesia belum melebar, tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi cenderung terbatas.

Pemerintah belum memerinci langkah lanjutan menyikapi hasil pemilu sela AS. Airlangga memastikan pemantauan berjalan dan seluruh indikator global akan menjadi dasar penyusunan kebijakan fiskal maupun moneter ke depan.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks