SULAWESI UTARA — John Ternus menjalani earnings call pertamanya sebagai CEO Apple dengan hasil kuartal yang mencetak rekor, tetapi gaya penyampaiannya menuai kritik dari sejumlah pengamat pasar. Bloomberg menilai performa Ternus "timid" dan membuat analis "sorely disappointed" karena terlalu bergantung pada naskah. Kekhawatiran soal kenaikan biaya memori dan pembangunan data center Siri AI turut menekan sentimen investor.
Rekor finansial Apple pada kuartal terakhir tidak serta-merta membuat pasar puas. Sejumlah investor menyoroti sikap hati-hati perusahaan terhadap proyeksi margin kuartal berjalan, dan sorotan lain mengarah ke cara Ternus memimpin sesi tanya jawab dengan analis.
Kritikus paling keras datang dari Bloomberg. Kolumnis Dave Lee menyebut earnings call pertama Ternus sebagai "a timid affair", dengan sang CEO berlindung di balik naskah yang disusun hati-hati saat analis melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
Lee menilai Ternus kehilangan momentum untuk menjelaskan arah perusahaan di bawah kepemimpinannya. Padahal, sesi itu disebut sebagai kesempatan memperkenalkan apa yang digambarkan sebagai "Ternus Doctrine" — visi sang "product guy" membawa Apple ke era inovasi berikutnya.
"Instead, he spoke like a man glancing at the clock and wishing the minutes away," tulis Lee, dikutip dari Bloomberg.
Fortune melalui Sebastian Herrera menyampaikan catatan senada dengan nada lebih moderat. Ternus memang menjawab sebagian pertanyaan, tetapi ia juga melimpahkan jawaban kepada Chief Financial Officer Kevan Parekh dan Chief Financial Officer Sabih Khan.
Apple menyatakan Parekh dan Khan akan ikut serta dalam earnings call ke depan — praktik yang sudah bertahun-tahun tidak dilakukan perusahaan. Ternus tampil percaya diri sepanjang sesi, namun dinilai sebagian besar bertahan pada poin pemasaran yang sudah disiapkan.
Kekecewaan investor sebagian besar dipicu sikap hati-hati Apple terhadap kenaikan beban biaya kuartal ini. Perusahaan menyebut biaya memori terus meningkat dan pembangunan data center untuk Siri AI akan menambah tagihan RAM.
Kombinasi proyeksi biaya yang konservatif dan komunikasi yang dinilai kaku membuat saham Apple tertekan di sesi pre-market. Pasar tampaknya menanti penjelasan yang lebih tegas soal bagaimana Apple menjaga margin di tengah lonjakan komponen.
9to5Mac memberi penilaian berbeda. Media tersebut menilai wajar bagi Ternus untuk butuh waktu mengembangkan gaya komunikasinya, termasuk saat menghadapi analis di earnings call.
Perbandingan pun ditarik ke pendahulunya yang dikenal tertutup soal banyak hal. Dalam konteks itu, kritik terhadap pendekatan Ternus dianggap agak janggal, terutama karena ia memilih sikap terukur namun optimistis.
Bagi pengguna dan pelaku pasar di Indonesia, sinyal yang perlu dicermati bukan sekadar gaya bicara CEO. Kenaikan biaya memori yang disebut Apple berpotensi merembet ke harga perangkat dan strategi pasokan di pasar global, termasuk lini iPhone dan Mac yang dijual di Tanah Air.