SULAWESI UTARA — Toyota mencatat skor kepuasan konsumen 99 persen dalam survei Populix terhadap delapan merek mobil penumpang paling banyak dibeli lima tahun terakhir. Angka itu unggul tipis dari Daihatsu dan Hyundai yang masing-masing 98 persen, serta Honda 97 persen dan BYD 96 persen. Nilai jual kembali yang kompetitif dan performa mesin disebut jadi dua alasan utama konsumen Indonesia puas.
Laporan Populix bertajuk "Decoding Indonesia's Upper Middle MZs Consumer Signals in the Passenger Car Market" menempatkan Toyota di puncak daftar kepuasan konsumen. Survei ini melibatkan delapan merek mobil penumpang yang paling banyak dibeli konsumen Indonesia selama lima tahun terakhir, dan Toyota keluar sebagai pemuncak dengan skor 99 persen.
Posisi Toyota di pasar mobil nasional memang belum tergeser. Data retail Gaikindo mencatat penjualan Toyota sepanjang Januari–September 2026 mencapai 194.519 unit, naik 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 187.883 unit.
Menurut konsumen dalam survei Populix, ada dua keunggulan utama yang membuat mobil Toyota dinilai memuaskan. Pertama, nilai jual kembali yang kompetitif dan tinggi. Kedua, performa mesin yang diasosiasikan kuat, mencakup tenaga mesin, akselerasi, pengereman, hingga pengendalian.
Dua asosiasi itu yang membedakan Toyota dari merek lain di daftar. Daihatsu dan Hyundai harus puas di posisi kedua dengan skor 98 persen, disusul Honda 97 persen dan BYD 96 persen.
Associate Research Director Populix, Susan Adi Putra, mengakui analisis dalam laporan ini punya keterbatasan. "Meskipun analisis ini cukup bias karena mungkin tidak sesuai dengan data konkret, asosiasi merek yang ditampilkan menggambarkan bagaimana masing-masing brand dilihat dari kacamata konsumen," ujarnya dalam siaran pers.
Susan menambahkan, temuan ini jadi cermin bagi tiap merek untuk mengevaluasi citra yang mereka bangun. "Maka dari itu, tiap brand perlu memastikan apakah nilai kuat yang mereka tonjolkan sudah cukup tersampaikan, atau malah harus menyesuaikan kembali untuk menjaring lebih banyak pengguna," jelasnya.
Kenaikan penjualan 3,5 persen terjadi di tengah banjir model baru dari merek pendatang, terutama merek China. Toyota justru mencatat pertumbuhan, bukan penurunan, pada periode yang sama.
Bagi calon pembeli, temuan Populix ini relevan sebagai pertimbangan nilai residu. Mobil dengan nilai jual kembali tinggi umumnya lebih ringan saat ditukar tambah ke model baru, karena selisih harga yang harus ditanggung lebih kecil.
Skor kepuasan tinggi juga memberi sinyal soal biaya kepemilikan jangka panjang. Konsumen yang puas cenderung kembali ke merek yang sama saat membeli mobil berikutnya, dan itu terlihat dari konsistensi Toyota di puncak penjualan ritel Gaikindo.