Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menyoroti dua isu strategis di Boltim dalam High Level Meeting (HLM) TP2DD dan TPID setempat, Selasa (19/5/2026). Pertama, potensi daerah itu sebagai sentra produksi cabai rawit yang surplus hingga 117,41 ton per tahun, jauh di atas kebutuhan rata-rata 51,49 ton. Kedua, tekanan harga bawang merah yang lebih tinggi dibanding wilayah Bolmong Raya lainnya.
Mengapa harga cabai rawit di Boltim perlu diwaspadai?
Meski surplus produksi melimpah, volatilitas harga komoditas di Sulawesi Utara disebut lebih tinggi dibanding nasional. Joko menegaskan stabilitas harga menjadi pondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Stabilitas harga perlu terus dijaga sebagai pondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas,” tegasnya.
Pada April 2026, tomat menjadi komoditas utama pendorong kenaikan harga di Sulawesi Utara secara bulanan. Kondisi ini memperkuat urgensi pengawasan harga bahan pokok menjelang Idul Adha, saat permintaan pangan biasanya melonjak.
GPM tiga tepat: waktu, lokasi, dan sasaran
Joko meminta agar Gerakan Pangan Murah dilaksanakan dengan prinsip tiga tepat: tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran. “Terutama menjelang HBKN Idul Adha, perlu dilakukan penguatan Gerakan Pangan Murah untuk memberikan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain GPM, BI mendorong sinergi antardaerah untuk mengidentifikasi pasokan surplus dan defisit. Joko juga meminta penertiban pasar tradisional dan modern bersama Satgas Pangan dan Aparat Penegak Hukum (APH) guna memastikan ketahanan pasokan dan kestabilan harga.
Apa langkah Pemkab Boltim selanjutnya?
Pemerintah Kabupaten Boltim diharapkan segera mengintensifkan pemantauan harga cabai rawit dan bawang merah di pasar-pasar utama. Data BI menunjukkan surplus cabai rawit yang besar justru bisa menjadi peluang jika distribusi dan pengaturan harga dikelola dengan baik.
Rapat HLM TP2DD dan TPID ini menjadi agenda rutin menjelang hari besar keagamaan untuk mengantisipasi gejolak harga. Tahun sebelumnya, tekanan inflasi di Sulawesi Utara kerap dipicu oleh kenaikan harga pangan volatil seperti cabai dan bawang.