SULAWESI UTARA — Pelaksana Tugas Kepala DLHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Amransyah Muslimin, menyatakan pencegahan menjadi prioritas utama mengantisipasi karhutla pada musim kemarau tahun ini. Ia mengungkapkan pembentukan tujuh regu MPA merupakan hasil kerja sama dengan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra.
Wilayah Prioritas Kekeringan dan Ancaman El Nino Godzilla
Kepala BMKG Kepulauan Babel, Eko Sulistyo Nugroho, memperkirakan musim kemarau ekstrem akan berlangsung dari Juni hingga September 2026. Fenomena El Nino Godzilla disebut sebagai pemicu utama rendahnya curah hujan dan memperpanjang periode kering.
"Wilayah prioritas kekeringan terkonsentrasi di Bangka Barat bagian barat, Bangka Selatan, Belitung bagian barat, dan Belitung Timur bagian timur karena diperkirakan menerima curah hujan lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya selama puncak musim kemarau tahun ini," kata Eko.
Strategi Pencegahan dan Deteksi Dini di Tingkat Desa
Amransyah menekankan bahwa MPA ditempatkan sebagai garda terdepan di tingkat desa. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar.
"Antisipasi karhutla tahun ini difokuskan pada pencegahan kebakaran sejak awal, mendeteksi lebih cepat, dan menindak tegas pelanggaran, agar kerusakan hutan dan lingkungan serta gangguan kesehatan dapat diminimalkan," ujarnya.
Meskipun Babel bukan provinsi dengan tingkat kerawanan karhutla tertinggi, kata Amransyah, kesiapsiagaan tetap harus diperkuat. "Kita menjadikan MPA sebagai garda terdepan di tingkat desa untuk mengantisipasi karhutla selama musim kemarau ekstrem ini," tambahnya.
Dampak Karhutla dan Tantangan Pelestarian Lingkungan
Kasus kebakaran hutan dan lahan masih menjadi tantangan serius dalam pelestarian lingkungan di Bangka Belitung. Kerusakan ekosistem, gangguan kesehatan akibat kabut asap, dan kerugian ekonomi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi setiap tahun.
Pembentukan MPA diharapkan mampu menekan dampak tersebut melalui respons cepat dan kolaborasi multipihak. Regu-regu ini akan bertugas melakukan patroli, sosialisasi, serta pemadaman dini jika ditemukan titik api di wilayah rawan.
DLHK Babel juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat sanksi tegas telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Langkah preventif ini menjadi kunci utama mengurangi risiko karhutla selama puncak musim kemarau yang diprediksi mencapai titik kritis pada Juli-Agustus 2026.