MANADO — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, Adolf Tamengkel, memimpin langsung pengiriman bantuan ke tiga pulau terluar yang terdampak gempa magnitudo 7,7. Logistik diangkut menggunakan KRI Selar dari Pelabuhan Manado pada malam hari menuju perairan Kepulauan Sangihe.
Isi Bantuan: Beras, Mi Instan, hingga Terpal untuk Warga Terisolasi
Sebanyak 3 ton beras, 181 dus mi instan, dan 37 dus ikan kaleng menjadi pasokan utama kebutuhan pokok bagi para penyintas. Selain itu, pemerintah mengirimkan 70 baki telur setara 2.100 butir, 150 lembar tikar, serta 10 lembar terpal untuk kebutuhan darurat warga yang rumahnya rusak.
Distribusi dilakukan lewat jalur laut karena akses darat ke pulau-pulau terluar itu sangat terbatas pascagempa. Kapal perang KRI Selar ditugaskan mengangkut seluruh logistik agar bantuan bisa tiba tepat sasaran.
Prioritas Warga Perbatasan: Negara Hadir Sampai ke Pulau Kecil
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, menegaskan bahwa wilayah kepulauan di perbatasan negara harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana. “Warga di daerah terluar harus jadi prioritas. Negara hadir sampai ke pulau-pulau kecil,” ujarnya melalui pernyataan BPBD Sulut.
Pendataan korban dan kerusakan masih terus diperbarui oleh tim BPBD bersama aparat setempat. Mekanisme distribusi disiapkan hingga ke rumah-rumah warga di Pulau Marore, Matatuang, dan Kawio agar tidak ada bantuan yang tercecer.
Keterbatasan Akses Jadi Tantangan Distribusi Bantuan
Letak geografis tiga pulau tersebut yang berada di ujung utara perbatasan Indonesia-Filipina membuat proses distribusi logistik memakan waktu lebih lama. Jalur laut menjadi satu-satunya opsi karena bandara kecil di Sangihe hanya bisa didarati pesawat berbadan kecil.
Kepala BPBD Sulut, Adolf Tamengkel, memastikan bahwa seluruh bantuan akan disalurkan secara langsung dan tepat sasaran. “Pendataan korban serta kerusakan terus kami perbarui agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.