KOTAMOBAGU — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kotamobagu menyatakan pekerjaan jalan perkebunan di Desa Moyag Tampoan telah selesai dan kini berada di tahap Provisional Hand Over (PHO). Tahapan itu menjadi bagian dari pemeriksaan penyelesaian pekerjaan sesuai ketentuan kontrak yang berlaku.
Kepala Dinas PUPR Kota Kotamobagu Claudy Mokodongan berharap hasil pekerjaan sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian kontrak. Ia menyebut pemeriksaan oleh badan berkompeten, dalam hal ini BPK, menjadi penentu apakah masih ada kekurangan dari sisi fisik maupun keuangan.
"Tentunya saya berharap pekerjaan tersebut sesuai dengan hasil yang disepakati melalui perjanjian kontrak. Sehingga pada tahap pemeriksaan oleh badan yang berkompeten, dalam hal ini BPK, tidak ditemukan lagi kekurangan, baik dari sisi fisik maupun keuangan," ujar Claudy, Jumat (4/9/2026).
Dua Prinsip yang Ditekankan Pemkot Kotamobagu
Claudy menegaskan setiap pelaksanaan proyek infrastruktur harus berpegang pada dua prinsip utama, yakni tepat waktu dan tepat mutu. Prinsip itu dinilai penting agar pekerjaan selesai sesuai ketentuan sekaligus memberi hasil optimal bagi masyarakat.
"Kami selalu menyampaikan bahwa setiap pekerjaan harus memenuhi dua T, yaitu tepat waktu dan tepat mutu. Ini bertujuan agar semuanya berjalan dengan baik, baik bagi kami sebagai penyedia pekerjaan maupun pihak kontraktor sebagai pelaksana," katanya.
Anggaran Rp 2,904 Miliar dari DAK Aspirasi
Pembangunan jalan perkebunan tersebut menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) aspirasi Anggota DPR RI asal Sulawesi Utara Christiany Eugenia Tetty Paruntu (CAP). Berdasarkan data kontrak, nilai pekerjaan mencapai Rp 2,904 miliar dengan Nomor Kontrak 01/KONTRAK/PUPR-KK/PPK-BM/R01/III/2026.
Pekerjaan dilaksanakan PT Tata Tou Nustar dengan masa pelaksanaan 180 hari kalender. Skema pendanaan melalui DAK aspirasi membuat proyek ini terikat pada perencanaan yang diajukan lewat jalur legislatif pusat.
Manfaat bagi Mobilitas Warga Moyag Tampoan
Rampungnya jalan diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat menuju kawasan perkebunan. Akses yang lebih baik juga disebut mendukung aktivitas ekonomi dan konektivitas wilayah Moyag Tampoan.
Bagi warga yang sehari-hari mengangkut hasil kebun, kualitas permukaan jalan menentukan biaya transportasi dan waktu tempuh. Pemeriksaan mutu pada tahap PHO menjadi penentu apakah manfaat tersebut bertahan dalam jangka panjang.