MANADO — Suara dukungan untuk mengangkat Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional kembali menggema di Sulawesi Utara. Deklarasi tersebut menjadi puncak dari rangkaian acara perayaan 109 tahun kelahiran ekonom yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan Ekonomi Indonesia itu.
Pemilihan Manado sebagai lokasi deklarasi bukan tanpa alasan. Sumitro Djojohadikusumo memiliki ikatan historis yang kuat dengan Sulawesi Utara, baik melalui jejak pemikirannya maupun hubungan kekeluargaan yang masih terpelihara hingga kini.
Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang hadir untuk menyuarakan keyakinan bahwa kontribusi Sumitro bagi bangsa layak diabadikan dalam status kepahlawanan. Mereka menilai pemikiran dan kebijakan ekonominya di masa lalu menjadi fondasi bagi pembangunan nasional.
Deklarasi ini digagas oleh komunitas akademisi dan pemerhati sejarah di Sulawesi Utara. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan, mereka menegaskan bahwa Prof Sumitro telah memenuhi syarat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009.
Poin utama deklarasi tersebut mencakup pengakuan atas jasa Sumitro dalam merumuskan konsep ekonomi kerakyatan, perannya dalam pembangunan infrastruktur pasca-kemerdekaan, serta dedikasinya dalam mendidik generasi ekonom bangsa. “Beliau adalah figur yang tidak hanya cemerlang secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan nasionalisme yang tak terbantahkan,” ujar salah satu inisiator dalam sambutannya.
Rangkaian acara perayaan 109 tahun ini juga menjadi ajang konsolidasi untuk memperkuat usulan yang telah diajukan ke pemerintah pusat. Para pendukung berharap agar proses verifikasi oleh tim peneliti dan pengkaji gelar pusat dapat berjalan lebih cepat.
Mereka optimistis bahwa dengan dukungan yang meluas dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi Utara, usulan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Sumitro Djojohadikusumo akan mendapat respons positif dari Presiden. Langkah selanjutnya adalah menggalang dukungan dari lebih banyak elemen masyarakat dan akademisi di tingkat nasional.
Prof Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai arsitek ekonomi Indonesia modern. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan di era Kabinet Sjahrir serta Menteri Riset di era Orde Baru. Namun, yang paling dikenang adalah keberaniannya dalam mengkritik kebijakan ekonomi yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil.
Pemikirannya tentang pembangunan berkeadilan dan pentingnya industrialisasi nasional masih relevan hingga saat ini. Bagi warga Sulawesi Utara, pengakuan terhadap Sumitro bukan hanya soal sejarah nasional, tetapi juga pengakuan terhadap kontribusi putra daerah yang telah berkiprah di tingkat tertinggi negara.