BITUNG — Kepala KPw BI Sulut Joko Supratikto menegaskan, tingginya harga cabai di Bitung tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan pasokan. Meskipun produksi di Sulawesi Utara meningkat, harga masih bertahan tinggi akibat faktor distribusi yang belum optimal.
“Tekanan harga pada komoditas hortikultura tidak hanya dipengaruhi jumlah pasokan, tetapi juga kelancaran distribusi, biaya logistik, kualitas pasokan, serta efektivitas rantai pasok,” ujar Joko dalam pertemuan yang digelar di Bitung.
Joko menjelaskan, Kota Bitung memang belum menjadi daerah pengukuran Indeks Harga Konsumen (IHK). Namun, pergerakan harga sejumlah komoditas di Bitung relatif searah dengan Kota Manado yang menjadi daerah IHK. Karena itu, pemantauan harga tetap krusial untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Pergerakan harga sejumlah komoditas di Bitung relatif searah dengan Kota Manado sebagai daerah IHK. Karena itu, pemantauan harga harus terus dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap tekanan inflasi,” katanya.
Berdasarkan data historis BI Sulut, komoditas cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah menjadi yang paling rentan mengalami fluktuasi harga. Pola kenaikan harga komoditas ini selalu muncul menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), meskipun upaya penambahan pasokan telah dilakukan.
Situasi berbeda terjadi pada komoditas pangan pokok. Hasil pemantauan neraca pangan menunjukkan beras medium, telur ayam ras, dan daging ayam ras secara konsisten mengalami surplus sepanjang 2025 hingga 2026.
“Kondisi ini menunjukkan ketahanan pasokan pangan pokok Kota Bitung berada dalam kondisi baik. Pergerakan harganya juga relatif stabil sehingga menjadi jangkar dalam menjaga stabilitas inflasi pangan daerah,” jelas Joko.
Wali Kota Bitung Hengky Honandar menambahkan, pengendalian inflasi menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Menurutnya, stabilitas harga adalah bagian penting dari ketahanan pangan dan penguatan ekonomi daerah.
“Kedaulatan bangsa ada di sektor pangan. Kalau kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi, ekonomi akan lebih stabil,” ujar Hengky.
Sebagai kota maritim, industri, dan pusat distribusi di Sulawesi Utara, Bitung disebut memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran rantai pasok pangan. TPID Bitung pun mengoptimalkan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
“Strategi 4K terus kami jalankan bersama Bank Indonesia, distributor, serta pelaku usaha agar pengendalian inflasi berjalan optimal,” kata Hengky.
Hengky meminta seluruh anggota TPID meningkatkan kewaspadaan terhadap faktor-faktor pemicu inflasi, mulai dari perubahan cuaca, hambatan logistik, hingga fluktuasi harga komoditas pangan. Ia menekankan perlunya gerak cepat berbasis data dan koordinasi yang kuat.
“Kita harus bergerak cepat, berbasis data, dan memperkuat koordinasi agar setiap kebijakan yang diambil tepat sasaran. Target kita adalah inflasi tetap terkendali, dunia usaha memiliki kepastian, dan kesejahteraan masyarakat terus terjaga,” pungkasnya.