BITUNG — Dua kawasan konservasi di Kota Bitung, TWA Batu Putih dan TWA Batu Angus, bakal dikelola lebih profesional setelah Pemkot Bitung menggandeng BKSDA Sulawesi Utara melalui perjanjian kerja sama yang baru diteken. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah kota untuk mengangkat pariwisata alam sebagai sektor unggulan yang berdaya saing nasional.
Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, menyebut penandatanganan dokumen itu bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari transformasi besar. "Perjanjian kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pengembangan Taman Wisata Alam Batu Putih dan Taman Wisata Alam Batu Angus sebagai destinasi wisata unggulan Kota Bitung," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Senin.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak akan bersinergi di sejumlah bidang. Mulai dari promosi wisata alam, pembangunan dan pemeliharaan sarana-prasarana kawasan, hingga optimalisasi pemanfaatan fasilitas secara berkelanjutan. Tak hanya itu, pemberdayaan masyarakat lokal juga menjadi fokus utama agar warga tidak sekadar menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam rantai ekonomi wisata sekaligus penjaga kawasan konservasi.
Hengky menekankan bahwa keberhasilan pembangunan pariwisata tidak semata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan. "Tetapi juga dari besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat serta terjaganya ekosistem alam," tegasnya. Pemerintah kota berkomitmen menjadikan pariwisata berbasis konservasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi daerah dengan prinsip pelestarian lingkungan dan keberlanjutan.
TWA Batu Putih dan TWA Batu Angus selama ini dikenal sebagai kawasan dengan bentang alam khas Sulawesi Utara. Batu Putih menyuguhkan tebing-tebing karst dan panorama laut, sementara Batu Angus menawarkan formasi batuan vulkanik hitam yang unik. Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, kedua lokasi ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.
Wali Kota juga menyampaikan apresiasi kepada BKSDA Sulawesi Utara yang dipimpin Danny H. Pattipeilohy atas kolaborasi yang dibangun. "Saya optimistis kerja sama ini akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat perlindungan kawasan konservasi, sekaligus mengangkat nama Kota Bitung sebagai destinasi wisata alam unggulan di Sulawesi Utara bahkan Indonesia," pungkas Hengky.
Ke depan, melalui kerja sama ini, pengembangan pariwisata berbasis konservasi di Bitung diharapkan semakin berkelanjutan. Selain membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja, langkah ini juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan sebagai aset utama daerah.