JAKARTA — Pasar kripto menyerap keputusan FOMC tanpa gejolak besar. Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.393,83 pada Kamis, 17 September 2026, menguat 1,23 persen dibanding 24 jam sebelumnya. Pergerakan itu terjadi sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Keputusan tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023. Kisaran federal funds kini berada di level 3,75 persen hingga 4,00 persen. Pelaku pasar disebut telah mengantisipasi langkah tersebut jauh sebelum diumumkan.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai respons pasar menunjukkan adaptasi terhadap kondisi suku bunga yang lebih tinggi. Menurut dia, sebagian besar risiko dari keputusan The Fed sudah tercermin dalam harga.
"Bitcoin mampu bertahan di atas US$75.000 setelah kenaikan suku bunga The Fed menunjukkan bahwa sebagian besar risiko tersebut sudah diperhitungkan oleh pasar. Ke depan, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada keputusan FOMC, tetapi juga pada bagaimana investor merespons arah kebijakan moneter berikutnya, inflasi, likuiditas, dan kondisi ekonomi global," kata Yudho.
Korelasi Bitcoin dengan S&P 500 dalam sepekan terakhir tercatat sekitar 0,57. Angka itu menegaskan pergerakan aset kripto masih dipengaruhi sentimen makroekonomi Amerika Serikat.
Secara teknikal, analis FLOQ menyoroti area US$75.000 hingga US$76.000 sebagai level penting jangka pendek. Selama harga bertahan di atas zona itu, Bitcoin berpeluang menguji resistance berikutnya di sekitar US$78.000 sampai US$78.200.
Sebaliknya, penurunan di bawah US$74.000 dapat membuka risiko koreksi lebih dalam. Support berikutnya diperkirakan berada di area US$72.000 hingga US$74.000.
"Jika Bitcoin mampu mempertahankan area US$75.000-US$76.000, peluang untuk menguji kembali area US$78.000 masih terbuka. Namun, apabila support tersebut gagal dipertahankan, pasar perlu bersiap menghadapi koreksi yang lebih dalam. Karena itu, dalam kondisi seperti sekarang, pergerakan harga perlu dilihat bersama dengan data makro dan arus dana institusional, bukan hanya dari momentum kenaikan harian," ujar Yudho.
Total likuidasi Bitcoin dalam 24 jam turun sekitar 60,18 persen menjadi US$84,36 juta. Likuidasi posisi long bahkan menyusut sekitar 83,18 persen. Data itu mengindikasikan tekanan forced selling mulai mereda dibandingkan sesi sebelumnya.
Meski begitu, volume perdagangan Bitcoin tercatat turun sekitar 24,52 persen. Pemulihan harga belum sepenuhnya diikuti masuknya tekanan beli baru dalam skala besar. Kenaikan pasca-FOMC lebih tepat dibaca sebagai fase pemulihan awal setelah ketidakpastian suku bunga mereda.
Data yang dilaporkan pada 17 September menunjukkan spot Bitcoin ETF Amerika Serikat mengalami arus keluar bersih sekitar US$295,9 juta pada 16 September. Sehari sebelumnya, arus keluar tercatat sekitar US$450,4 juta.
Angka tersebut menandakan pemulihan harga Bitcoin belum diikuti kembalinya aliran dana institusional ke produk investasi Bitcoin. Arus dana institusional masih perlu dicermati sebagai faktor penekan.
Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada 2026. Reuters melaporkan keputusan September disertai sinyal kebijakan yang lebih hawkish, sementara pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan berikutnya.
Suku bunga yang lebih tinggi dalam periode lebih panjang dapat memperketat likuiditas dan meningkatkan daya tarik aset berbasis yield. Kondisi itu berpotensi membatasi ruang kenaikan aset kripto, termasuk Bitcoin.
Sejumlah analis melihat respons terbatas setelah keputusan FOMC sebagai indikasi bahwa ekspektasi hawkish telah tercermin dalam harga. Pasar kini menunggu data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, imbal hasil obligasi AS, pergerakan dolar AS, serta komunikasi pejabat The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya.
Yudho menambahkan, kondisi tersebut membuat pergerakan Bitcoin berpotensi tetap volatil dalam beberapa pekan mendatang. Pasar kripto saat ini berada di fase yang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi makro.