Chery Akui Belajar dari Toyota dan Tesla Sebelum Kuasai 20 Juta Pengguna

Penulis: Ragil  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 11:48:01 WIB
Chairman Chery Group Yin Tongyue menyampaikan paparan dalam Chery International User Summit 2026 di Wuhu, China.

SULAWESI UTARA — Yin Tongyue, Chairman Chery Group, secara terbuka menyebut Toyota dan Tesla sebagai dua guru besar yang membentuk cara perusahaan asal China itu berproduksi dan berinovasi. Pengakuan itu muncul saat Chery International User Summit 2026 di Wuhu, China, tepat ketika grup tersebut mengklaim sudah menembus 20 juta unit penjualan global dan mengucurkan US$ 5 miliar untuk sektor kendaraan energi baru.

Yin Tongyue menyampaikan hal tersebut di hadapan hadirin Chery International User Summit 2026. Dari Toyota, Chery mengaku menimpa cara produksi efisien, standar kualitas tinggi, sampai pembangunan ekosistem yang berkelanjutan. Dari Tesla, mereka mengadopsi pola pikir berbasis prinsip dasar atau first principles.

Dua Guru dengan Pelajaran Berbeda

Pembagian peran kedua raksasa otomotif itu dijelaskan Yin dengan cukup gamblang. Toyota menjadi rujukan soal efisiensi lini produksi dan kualitas, sementara Tesla jadi contoh soal eksplorasi peluang baru.

"Di satu sisi, kami belajar dari Toyota soal produksi yang efisien, kualitas tinggi, dan pengembangan ekosistem berkelanjutan," ujar Yin Tongyue saat presentasi di Wuhu, China.

Dari Tesla, Chery mengambil pemikiran berbasis prinsip dasar. Hasilnya terlihat pada arah pengembangan AI, energi bersih, robotik, dan model bisnis yang mereka siapkan untuk masa depan.

"Kemudian di lain sisi, kami juga belajar dari Tesla dengan mengadopsi pemikiran berbasis prinsip dasar, seperti mengeksplorasi peluang baru di bidang AI, energi bersih, robotik, dan model bisnis lain di masa depan," tambahnya.

20 Juta Unit dan Ambisi Era 3.0

Chery Group kini mencatatkan penjualan 20 juta unit di pasar dunia. Angka itu jadi modal Yin untuk mengajak pengguna ikut serta dalam agenda berikutnya, yakni membawa AI ke kebutuhan sehari-hari.

"Chery punya 20 jutaan pengguna di dunia. Mari bantu kami mengubah teknologi tinggi menjadi kebutuhan sehari-hari dan AI akan membawa Chery ke era 3.0," tutur Yin Tongyue di kesempatan yang sama.

Target jangka panjangnya cukup berani. Yin menyebut pada 2035 Chery akan tampil sebagai kluster teknologi, bukan lagi sekadar merek otomotif konvensional.

"Lebih dari lima tahun, kami terus meningkatkan inovasi pada kesejahteraan publik. Pada 2035, Anda akan lihat Chery yang berbeda. Kami akan berkembang dari merek konvensional menjadi kluster teknologi," tuturnya.

US$ 5 Miliar untuk NEV dan AI

Investasi jadi bagian yang tak bisa dilepas dari strategi Chery. Selama lima tahun terakhir, grup ini menggelontorkan US$ 5 miliar untuk mengembangkan industri kunci seperti NEV atau kendaraan energi baru.

"Agar kita unggul, kami harus menerima AI dan evolusi industri. Selama lima tahun terakhir, kami telah berinvestasi US$ 5 miliar untuk mengembangkan industri kunci seperti NEV," kata dia.

Bagi pembaca di Indonesia, arah ini relevan karena Chery sudah memasarkan sejumlah model di pasar lokal, termasuk lini Tiggo dan Omoda. Sinyal investasi besar di NEV dan AI memberi gambaran ke mana portofolio produk mereka akan bergerak dalam beberapa tahun ke depan.

Jejak 29 Tahun dan Rekor Ekspor

Chery didirikan pada 1997 atau 29 tahun lalu. Pada 2007, mereka menjadi merek China pertama yang mencapai akumulasi penjualan 1 juta unit kendaraan.

Grup tersebut kini menaungi berbagai merek, termasuk Chery, Exeed, Fulwin, iCar, Luxeed, dan Jetour. Kegiatan operasionalnya mencakup lebih dari 130 negara dan wilayah.

Ekspor menjadi mesin pertumbuhan utama. Menurut data yang dihimpun CnEVPost, Chery Group mengekspor 943 ribuan kendaraan pada paruh pertama tahun ini, naik 71,5% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pada bulan Juni saja, Chery Group mengekspor 191 ribuan mobil dan mencetak rekor bulanan selama empat bulan berturut-turut. Artinya, satu unit kendaraan Chery dikirim ke luar negeri setiap 17 detik.

Yang Perlu Diperhatikan

Klaim belajar dari Toyota dan Tesla terdengar strategis, tetapi belum ada penjelasan terbuka soal bagaimana metode itu diterjemahkan ke standar produksi di luar China. Bagi calon pembeli di Indonesia, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kualitas rakitan dan konsistensi suku cadang di unit yang dijual lokal ikut menyerap pelajaran dari Toyota.

Chery juga belum merinci produk apa yang akan lahir dari investasi US$ 5 miliar tersebut, terutama untuk pasar Asia Tenggara. Pembaca yang sedang mempertimbangkan mobil Chery sebaiknya menunggu kejelasan peta model dan layanan purnajual di Indonesia sebelum mengambil keputusan.

Reporter: Ragil
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top