Pencarian

Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Bayang-bayang Messi dan Harapan Piala Dunia Terakhir

Minggu, 24 Mei 2026 • 03:58:01 WIB
Beban Neymar di Pundak Brasil: Antara Bayang-bayang Messi dan Harapan Piala Dunia Terakhir
Neymar memikul harapan besar Brasil menjelang Piala Dunia 2026.

SULAWESI UTARA — Sejak debutnya di tim senior Brasil pasca-Piala Dunia 2010, Neymar hidup dalam bayang-bayang Lionel Messi. Saat itu Messi berusia 23 tahun dan sudah menjadi bintang mutlak. Brasil, yang haus akan ikon baru, langsung menunjuk Neymar sebagai jawabannya. Keputusan Ancelotti memanggilnya untuk Piala Dunia mendatang adalah upaya paling gamblang untuk meniru "last dance" Messi di edisi sebelumnya—sebuah langkah yang oleh jurnalis Jonathan Wilson disebut sebagai desperate attempt.

Dari Harapan ke Beban: Akar Masalah yang Tak Pernah Selesai

Masalahnya, sejak awal karier internasionalnya, Neymar tidak pernah benar-benar diizinkan menjadi dirinya sendiri. Ia adalah wadah tempat berbagai faksi menuangkan narasi mereka. Ada ironi yang kerap terlewat: potensi besarnya tergerus oleh ekspektasi yang terus membengkak.

Kekalahan dari Belgia di perempat final Piala Dunia 2018 menjadi titik nadir. Saat itu, Neymar baru berusia 26 tahun, namun posturnya yang membungkuk di parkir stadion Kazan sudah menceritakan segalanya—seolah peluang terbaiknya untuk meraih Piala Dunia telah sirna. Bukan salahnya Brasil kalah, tapi kehadirannya justru menciptakan celah taktis yang dieksploitasi Roberto Martínez. Tanpa keseimbangan lini tengah, Brasil tumbang.

Siklus Kekerasan dan Drama yang Tak Pernah Usai

Pola ini sudah terlihat sejak Copa América 2011. Setelah membawa Santos juara Copa Libertadores, Neymar tiba di Argentina dengan gebyar besar. Tapi semuanya runtuh saat berhadapan dengan bek Venezuela, Roberto Rosales. Dua duel sengit melawan Paraguay kemudian mengonfirmasi satu hal: Neymar tidak suka jika dilawan dengan keras.

Dampaknya? Bek-bek lawan terus menendangnya, dan Neymar mulai antisipatif—melebih-lebihkan kontak, berpura-pura, dan menyelam. Sepanjang dekade 2010-an, ini menjadi arms race paling menjengkelkan di sepak bola. Puncaknya terjadi di Piala Dunia 2014. Brasil menang atas Kolombia, tapi Neymar mengalami patah tulang belakang akibat tekel Juan Camilo Zúñiga. Meski tekel itu lebih karena euforia daripada niat jahat, Zúñiga dihujat habis-habisan oleh federasi Brasil dan publik.

Ketika Messi Palsu Menjadi Bumerang Nasional

Suasana Rio de Janeiro keesokan paginya hening seperti setelah bencana nasional. Tanpa Neymar, Brasil kehilangan arah. David Luiz mengibarkan jersey kosong Neymar saat lagu kebangsaan, histeria merasuki skuad, dan Jerman dengan kejam mencetak tujuh gol. Sebuah negara kehilangan akal sehatnya, membangun Neymar menjadi pemain yang sejatinya tidak pernah ia sanggupi.

Setahun kemudian, di Copa América 2015, Kolombia memprovokasi Neymar hingga ia diusir keluar lapangan karena sundulan ke belakang. Hukuman larangan bermain empat pertandingan pun dijatuhkan. Ini bukan sekadar cerita tentang pemain yang sering cedera; ini tentang bagaimana sistem menciptakan mesias palsu, lalu menghancurkannya ketika ia gagal memenuhi tuntutan yang mustahil.

Apa Artinya bagi Piala Dunia 2026?

Keputusan Ancelotti membawa Neymar kini bukanlah jaminan kesuksesan. Ini adalah taruhan emosional. Tanpa keseimbangan taktis yang nyata—tanpa adanya "Rodrigo De Paul"-nya Brasil—kehadiran Neymar bisa kembali menjadi ilusi. Pertanyaannya kini: akankah Brasil belajar dari sejarah, atau justru mengulang siklus yang sama?

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks