SULAWESI UTARA — Tiga hari berselang setelah kekalahan dramatis 1-2 dari Argentina di semifinal, Saka tampil sebagai bintang kemenangan 6-4 Inggris atas France di Stadion Hard Rock, Miami. Pemain 24 tahun itu mencetak tiga gol—dua di babak pertama dan satu dari titik putih—membantu The Three Lions mengamankan finis terbaik mereka sejak menjuarai Piala Dunia 1966.
Dari Bangku Cadangan ke Panggung Utama
Pada Rabu malam di Atlanta, Saka hanya duduk di bangku cadangan saat Inggris unggul 1-0 atas Argentina. Manajer Thomas Tuchel memilih Morgan Rogers sebagai starter di sisi kanan—keputusan yang sempat terbukti tepat setelah Rogers memberi assist untuk gol Anthony Gordon di awal babak kedua.
Namun, Argentina membalikkan keadaan lewat gol Enzo Fernandez (menit 85) dan sundulan Lautaro Martinez di masa injury time. Saka melakukan pemanasan, tapi tak pernah masuk lapangan.
Tuchel Bantah Kehilangan Kepercayaan
Tuchel menegaskan keputusannya bukan soal keraguan terhadap kualitas Saka. Ia mengakui pemain tersebut masih dalam pemulihan cedera Achilles yang mengganggu musimnya di Arsenal.
"Dia adalah pemain kunci bagi saya," kata Tuchel usai laga lawan France. "Saya merasa bertanggung jawab sebagai pelatih, mengingat riwayat cederanya, untuk memperlakukannya dengan hati-hati. Rogers punya fisik yang cocok melawan Argentina."
Sepanjang turnamen, Saka hanya memulai tiga dari delapan pertandingan Inggris. Menit bermainnya dibatasi karena ia tak bisa berlatih penuh setiap hari.
Statistik Berbicara: Satu Gol Setiap 119 Menit
Meski dibatasi, produktivitas Saka tetap impresif. Dari 357 menit di lapangan, ia mengemas tiga gol dan tiga assist—rata-rata kontribusi gol setiap 59,5 menit.
Hattrick ini menempatkannya dalam jajaran elit: pemain Inggris keempat yang mencetak hattrick di Piala Dunia setelah Geoff Hurst, Gary Lineker, dan Harry Kane. Ia juga pemain kedua yang melakukannya di fase gugur setelah Hurst di final 1966.
Saka: "Saya Bicara di Lapangan"
Saka mengakui ada kekecewaan karena minim menit bermain. "Tentu saya ingin bermain lebih banyak," ujarnya. "Tapi ini bukan waktunya membahas itu. Saya mencoba bicara di lapangan. Sudah selesai, lanjutkan."
Pertanyaan besarnya: apakah satu penampilan brilian di laga perebutan tempat ketiga cukup mengubah hierarki tim Inggris menuju Euro 2028? Miami setidaknya telah mengirim pengingat keras—bahwa ketika fit, Saka adalah senjata yang terlalu mahal untuk ditinggalkan di bangku cadangan.