SULAWESI UTARA — Di tengah gejolak Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membuat harga saham ambruk, investor di Sulawesi Utara tak serta-merta panik. Mereka justru selektif memilih sektor dan emiten tertentu. Tiga sektor utama yang mendominasi portofolio investor di provinsi ini adalah perbankan, pertambangan, dan energi.
"Untuk perbankan, hanya bank besar yang jadi pilihan, seperti bank Himbara — BRI, Mandiri, BNI — plus BCA," kata Yansen Sumual, Kepala Cabang MNC Sekuritas Manado, Jumat (26/6/2025). Pola serupa berlaku di sektor tambang dan energi: investor hanya melirik emiten dengan fundamental dan kinerja keuangan yang terbukti baik.
Dividen Tinggi Jadi Pelarian di Tengah Bursa Merah
Kepala Cabang BNI Sekuritas Manado, Susan Mengko, membenarkan dominasi sektor perbankan dan tambang di kalangan nasabahnya. Namun, ia mencatat gejolak pasar sempat membuat banyak investor khawatir. "Awalnya banyak yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi seiring waktu mereka mulai paham dan memilih menahan saham sambil menunggu harga naik lagi," ujarnya.
Strategi berbeda diambil investor MNC Sekuritas. Yansen mengungkapkan, sebagian dari mereka mulai memindahkan portofolio ke saham-saham dengan dividen tinggi. "Ada emiten yang bagi dividennya di atas 10 persen. Investor mulai menghindari trading dan beralih ke dividen," jelasnya.
Langkah ini disebut memberikan peluang keuntungan ganda: dividen besar di tengah pasar lesu, ditambah potensi capital gain saat harga saham pulih seiring membaiknya bursa.
Penutup: Perubahan strategi investor di daerah ini menunjukkan adaptasi pasar yang cepat. Alih-alih keluar dari bursa, investor Sulut memilih bermain aman dengan saham berfundamental kuat dan imbal hasil dividen yang pasti — sinyal bahwa optimisme jangka panjang terhadap emiten besar masih terjaga. (*)