SULAWESI UTARA — Empat alumni S1 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terjerat dugaan pemalsuan riset yang terungkap dalam ajang International Symposium on Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, 17-21 Mei lalu. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengonfirmasi bahwa keempatnya akan diperiksa tim gabungan pada Jumat ini.
"Sudah (dimintai keterangan) oleh UNY. Jumat ini akan dimintai keterangan oleh tim bersama Kemendiktisaintek, BRIN, dan UNY," kata Brian saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).
Modus Fabrikasi Data dan Pencatutan Identitas
Hasil pendalaman sementara menunjukkan skandal ini tidak sekadar pelanggaran etika akademik biasa. Tim investigasi yang dipimpin Plt Inspektur Jenderal Kemendiktisaintek, Nur Syarifah, menemukan setidaknya empat modus pelanggaran: penggunaan nama UNY tanpa izin, pencatutan identitas peneliti lain, pemalsuan afiliasi lembaga, hingga fabrikasi data riset menggunakan kecerdasan buatan.
Modus operandi yang paling mencengangkan terungkap dari unggahan peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika di media sosial. "Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag," tulisnya. "Risetnya palsu, dibuat dengan AI dan fabrikasi data. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga."
Payung Hukum Minim, Koordinasi dengan Aparat Diintensifkan
Brian Yuliarto mengakui posisi pemerintah cukup rumit. Secara administratif, keempat terduga pelaku bukan dosen atau tenaga pendidik di perguruan tinggi, sehingga Kemendiktisaintek tidak memiliki payung hukum langsung untuk menjatuhkan sanksi kelembagaan. "S2-nya berbeda-beda," ujar Brian dalam rapat sebelumnya.
Untuk mengatasi celah hukum itu, Kemendiktisaintek dan BRIN sepakat memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum. Kedua lembaga tengah mengkaji kemungkinan delik pidana yang bisa diterapkan, termasuk pembatasan akses terhadap program riset, fasilitas, dan pendanaan pemerintah di masa depan.
"Integritas akademik merupakan fondasi utama kemajuan ilmu pengetahuan. Kepercayaan publik terhadap hasil riset dibangun melalui kejujuran, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap etika ilmiah," tegas Brian.
Dampak Reputasi: Riset Indonesia Dipertaruhkan
Kasus ini mencoreng wajah riset Indonesia di forum ilmiah global. ISPPD merupakan konferensi bergengsi yang dihadiri ribuan ilmuwan pneumonia dari seluruh dunia. Tiga nama yang disebut dalam dugaan awal—Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti—mempresentasikan hasil penelitian yang dianggap terlalu impresif hingga menimbulkan kecurigaan.
Kemendiktisaintek menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini secara serius dan objektif. "Setiap dugaan pelanggaran yang berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia harus ditindaklanjuti secara serius dan objektif," kata Brian. Pemeriksaan lusa diharapkan menjadi titik terang untuk mengungkap jaringan pemalsuan ini secara lebih luas.