JAKARTA — Bitcoin sempat menyentuh sekitar US$84.425 setelah turun 2,06 persen dalam sehari. Tekanan jual muncul ketika investor kembali menyesuaikan portofolio di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Lonjakan yield US Treasury 10 tahun naik sekitar 15 basis poin dalam 24 jam. Ketika yield meningkat, sebagian investor memilih instrumen berpendapatan tetap dengan imbal hasil lebih tinggi, sehingga tekanan terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto ikut menguat.
Mengapa Yield Treasury AS Berdampak ke Harga Bitcoin?
Kenaikan yield terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Kondisi itu memperketat likuiditas bagi aset berisiko, termasuk kripto.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan Bitcoin perlu dilihat dalam konteks makroekonomi yang lebih luas, bukan hanya dari pergerakan harga BTC.
"Koreksi Bitcoin ke area US$84.000 menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan yield Treasury. Ketika yield 10 tahun menembus 5%, investor kembali melakukan penyesuaian terhadap tingkat risiko dan imbal hasil di berbagai kelas aset," kata Yudho.
Menurut Yudho, kenaikan yield tidak serta-merta mengubah fundamental Bitcoin dalam jangka panjang. Namun dalam jangka pendek, kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas karena investor melakukan rebalancing portofolio.
"Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah Bitcoin turun hari ini, tetapi bagaimana pasar merespons setelah tekanan makro tersebut mereda. Selama permintaan struktural terhadap Bitcoin tetap ada, koreksi dapat menjadi bagian dari proses price discovery. Karena itu, investor perlu membedakan antara tekanan jangka pendek akibat kondisi makro dan perubahan fundamental aset," lanjutnya.
Arus Masuk ETF Bitcoin Spot AS Capai US$998,95 Juta
Di tengah koreksi harga, minat terhadap produk investasi Bitcoin berbasis spot ETF di Amerika Serikat masih terlihat kuat. Pada 21 September 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$998,95 juta.
Angka itu menjadi salah satu arus masuk harian terbesar sejak Oktober 2025. BlackRock IBIT mencatat inflow sekitar US$381,37 juta, disusul ARKB sekitar US$289,12 juta dan FBTC sekitar US$238,84 juta.
Data tersebut menunjukkan koreksi harga belum sepenuhnya diikuti pelemahan permintaan institusional. Arus masuk ETF Bitcoin pada September masih mencatat nilai positif secara keseluruhan.
"Arus masuk ETF yang tetap besar menunjukkan bahwa di balik volatilitas harga, masih terdapat permintaan dari investor dengan horizon yang lebih panjang. Jadi, pasar saat ini menghadapi dua kekuatan sekaligus: tekanan jangka pendek dari kenaikan yield dan permintaan struktural yang masih terlihat dari produk ETF," ungkap Yudho.
Level US$83.500 Jadi Support yang Perlu Dicermati
Dari sisi teknikal, area US$87.000 masih menjadi resistance penting setelah BTC gagal mempertahankan momentum kenaikannya. Sementara itu, level sekitar US$83.500 menjadi area support yang perlu diperhatikan.
Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, BTC berpotensi menguji area US$81.000. Sebaliknya, kegagalan menembus resistance US$87.000 membuat pasar cenderung wait and see terhadap arah suku bunga berikutnya.
Yudho menambahkan, volatilitas Bitcoin kemungkinan masih tinggi selama pasar global merespons perkembangan yield, inflasi, kebijakan bank sentral, dan kondisi geopolitik.
"Untuk beberapa waktu ke depan, volatilitas kemungkinan masih menjadi bagian dari pasar. Investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu level harga, tetapi juga memperhatikan likuiditas, arus ETF, kebijakan moneter, serta perkembangan ekonomi global sebagai satu kesatuan," tutupnya.