Pencarian

Serangan Rudal Houthi Tembus Pertahanan Udara Arab Saudi, 12 Tewas di Bandara Riyadh

Senin, 12 Oktober 2026 • 11:48:01 WIB
Serangan Rudal Houthi Tembus Pertahanan Udara Arab Saudi, 12 Tewas di Bandara Riyadh
Serangan rudal Houthi menghantam Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh dan menewaskan 12 orang.

SULAWESI UTARA — Gelombang rudal balistik dan drone Houthi berhasil menembus sistem pertahanan udara Arab Saudi dan menghantam Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Serangan itu menjadi yang paling mematikan di bandara tersebut dalam lebih dari satu dekade, memaksa otoritas penerbangan mengalihkan seluruh jadwal penerbangan.

Sejak kampanye militer baru Houthi dimulai September, bandara utama Arab Saudi itu berkali-kali menjadi sasaran. Amerika Serikat dan Inggris langsung mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya menyusul insiden tersebut.

Persenjataan Houthi yang Semakin Canggih

Kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan jauh ke dalam wilayah Arab Saudi menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone. Persenjataan mereka berkembang pesat sejak merebut kendali Sanaa dari pemerintah pada September 2014.

Drone dan rudal Houthi kini menjangkau hingga Israel dan mampu menghantam target spesifik seperti bandara serta fasilitas minyak Arab Saudi. Sejak intervensi militer pada 2015, mereka telah menembakkan ratusan drone dan rudal ke arah kerajaan.

Di antara opsi tercanggihnya adalah rudal balistik jarak menengah Palestine-2, rudal bahan bakar padat dua bagian yang diyakini berjangkauan 2.000 km dengan kemampuan hipersonik. Ada pula Toufan, yang tampaknya merupakan rudal Ghadr Iran yang diubah namanya, diperkirakan berjangkauan 1.350 hingga 1.950 km.

Jangkauan tersebut, dengan beberapa rudal membawa hulu ledak cluster, memungkinkan Houthi menembus pertahanan udara Israel yang berjarak sekitar 2.000 km dari Yaman. Mereka juga memiliki rudal jarak pendek seperti seri Burkan dan Badr.

Mengapa Pertahanan Arab Saudi Kewalahan?

Otoritas Arab Saudi mengklaim berhasil menembak jatuh sejumlah proyektil selama sepekan terakhir, termasuk sepasang rudal balistik yang diarahkan ke ibu kota. Namun mereka gagal mencegat proyektil yang menghantam Bandara Internasional Raja Khalid.

Nawaf Obaid, peneliti Departemen Studi Perang Kings College, menilai tertembusnya pertahanan udara Saudi memang sudah diperkirakan mengingat luasnya wilayah dan perbatasan dengan Yaman.

"Meskipun memiliki sistem pertahanan udara berlapis-lapis, pasti akan ada satu yang berhasil lolos," kata Obaid.

Masalah lain adalah stok rudal pencegat. Saudi bersama banyak sekutu AS berjuang menghadapi terbatasnya persediaan amunisi Patriot dan THAAD, yang terkuras saat awal peperangan dengan Iran.

Taktik Menghindari Deteksi

Houthi menggunakan senjata secara bersamaan, mencampurkan drone dan rudal dengan berbagai kecepatan untuk mengecoh pertahanan udara. Taktik yang sama mewarnai perang darat Yaman, di mana mereka menggempur posisi pemerintah berminggu-minggu sebelum merebut pesisir Laut Merah dalam serangan kilat.

Menurut Obaid, persenjataan rudal Houthi diturunkan dari persenjataan Iran, dengan beberapa pengaruh teknologi China.

"Houthi hanya menunjukkan sedikit bukti adanya inovasi teknologi mandiri signifikan. Kemampuan domestik mereka sebagian besar terbatas pada produksi rudal dan drone kelas bawah tertentu," ujarnya.

Kendala di Sisi Houthi

Houthi juga bertempur di bawah kendala serius. Mereka menghadapi embargo senjata PBB, blokade Arab Saudi bertahun-tahun, serta harus bertempur di seluruh Yaman.

"Secara militer, koalisi pimpinan Arab Saudi lebih unggul, tapi Houthi bisa mendominasi berita utama dengan sesekali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi," kata Obaid.

Pesawat tempur Saudi menggempur berbagai posisi Houthi di seluruh Yaman sepekan terakhir, berusaha memukul mundur kelompok yang didukung Iran tersebut. Namun jenis senjata pasti yang menyerang bandara Riyadh belum diketahui secara resmi.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks