SULAWESI UTARA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat menembus level Rp 18.054 per dolar AS pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menguat 116 poin atau 0,65% dari posisi sebelumnya. Bank Indonesia menyebut penguatan dolar AS dipicu arus modal keluar dari aset portofolio domestik ditambah sentimen global yang menekan pasar keuangan dalam negeri. Pelemahan rupiah secara kuartalan masih terbatas 0,28% secara quarter-to-date.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea menyatakan penguatan dolar AS terjadi karena investor menarik dana dari aset portofolio domestik. Sentimen global turut memperkuat mata uang Paman Sam dan memberi tekanan tambahan ke pasar keuangan Indonesia.
Meski begitu, Bank Indonesia menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Pelemahan rupiah tercatat terbatas, hanya 0,28% secara quarter-to-date.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, posisi cadangan devisa Indonesia tetap aman. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.
Angka tersebut menjadi bantalan bagi bank sentral untuk terus melakukan stabilisasi nilai tukar di pasar. Cadangan devisa yang memadai juga memberi ruang bagi BI untuk mengintervensi pasar tanpa mengganggu kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi.
Bank Indonesia menyatakan terus hadir di pasar menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya. Intervensi dilakukan lewat empat jalur utama:
Langkah pembelian SBN di pasar sekunder berfungsi ganda: menahan pelemahan rupiah sekaligus menjaga likuiditas di pasar obligasi. BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang agar tetap kondusif bagi pelaku pasar.
Erwin menegaskan bank sentral tidak akan membiarkan rupiah bergerak liar tanpa arah. Menurutnya, mekanisme pasar tetap harus berjalan dengan baik.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik," kata Erwin dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Selain intervensi pasar, BI akan menjaga kecukupan likuiditas valas dan rupiah. Koordinasi intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya juga terus dilakukan untuk memantau kebutuhan valuta asing.
Data Bloomberg menunjukkan penguatan dolar AS tidak seragam terhadap semua mata uang. Dolar AS menguat 0,02% terhadap yen Jepang, naik 0,04% terhadap euro, menguat 0,02% terhadap yuan China, dan naik 0,05% terhadap dolar Singapura.
Sebaliknya, dolar AS melemah tipis 0,01% terhadap pound sterling dan 0,01% terhadap dolar Australia. Pola ini menunjukkan penguatan dolar AS lebih didorong faktor domestik AS dan arus modal keluar dari negara berkembang, bukan penguatan serentak terhadap semua mata uang.
Bagi investor asing, level rupiah di atas Rp 18.000 per dolar AS menambah beban imbal hasil aset Indonesia jika dihitung dalam dolar. Pelemahan 0,28% secara kuartalan masih relatif terbatas dibandingkan mata uang kawasan lain, sehingga daya tarik obligasi Indonesia belum sepenuhnya hilang.
Bagi pelaku bisnis dengan utang valas, penguatan dolar AS langsung menaikkan beban kewajiban dalam rupiah. Korporasi yang punya eksposur dolar AS perlu memperhitungkan ulang lindung nilai (hedging) di tengah volatilitas kurs.
Eksportir justru mendapat angin segar karena penerimaan dolar AS mereka setara lebih besar dalam rupiah. Sebaliknya, importir bahan baku menghadapi kenaikan biaya yang bisa merambat ke harga jual barang di pasar domestik.
Pergerakan rupiah ke depan akan bergantung pada besarnya arus modal keluar dan seberapa agresif BI mengintervensi pasar. Posisi cadangan devisa US$ 146,3 miliar memberi ruang bagi bank sentral untuk terus menstabilkan kurs dalam beberapa bulan ke depan.