SULAWESI UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan menguat 151,08 poin atau 3,02% ke level 5.147,69 pada perdagangan Selasa (20/10/2026) pukul 10.33 WIB, bangkit dari penutupan sebelumnya di 4.996,61. Penguatan indeks sejalan dengan kenaikan IDX Energy sebesar 2,36%, meski sejumlah saham energi justru terkoreksi.
Data Investing.com mencatat IHSG dibuka di level 4.980,16, sempat menyentuh titik terendah sesi pagi sebelum berbalik menguat. Titik tertinggi harian sempat dicapai di 5.184,24. Pergerakan tersebut menempatkan indeks masih sedikit di bawah puncak hariannya hingga pukul 10.33 WIB.
Penguatan pagi ini terjadi setelah IHSG ditutup di 4.996,61 pada sesi sebelumnya. Lonjakan 3,02% dalam waktu sekitar satu jam perdagangan menandakan arus beli yang cukup agresif di awal sesi.
Indeks sektor energi berada di level 2.533,95, naik 58,49 poin. Sejumlah saham batu bara dan energi menjadi motor penggerak sektor ini pada perdagangan pagi.
Alamtri Resources memimpin penguatan dengan kenaikan 6,79%, diikuti ABM Investama dan Golden Energy Mines. Ketiganya bergerak di lini bisnis batu bara dan kontraktor pertambangan yang sensitif terhadap harga komoditas global.
Penguatan IDX Energy tidak merata. Sejumlah saham justru berbalik arah meski indeks sektor dan IHSG sedang naik.
Super Energy mencatat pelemahan terdalam di antara saham energi pagi ini. Bayan Resources, yang biasanya menjadi saham berkapitalisasi besar di sektor batu bara, juga ikut terkoreksi 4,10% ke 9.950.
Rebound 3,02% dalam sesi pagi membawa IHSG kembali ke atas level 5.100 setelah sebelumnya bertahan di bawah 5.000. Bagi investor jangka pendek, level 5.184,24 menjadi resistensi terdekat yang perlu diperhatikan pada sisa sesi.
Di sisi sektor, penguatan IDX Energy lebih banyak ditopang saham batu bara berkapitalisasi menengah seperti Alamtri dan ABM Investama. Sementara emiten energi lain justru terkoreksi, menandakan seleksi saham masih ketat di sektor ini.
Pergerakan IHSG dan IDX Energy pada sesi pagi ini belum mencerminkan arah penutupan. Investor perlu memantau apakah arus beli bertahan hingga sesi kedua, terutama menjelang rilis data ekonomi dan sentimen global yang bisa mengubah arah pasar.