Pencarian

Harga Kopra dan Cengkih di Sulawesi Utara Mulai Merangkak Naik Awal Juli 2026, Petani Mulai Tersenyum

Kamis, 02 Juli 2026 • 12:45:02 WIB
Harga Kopra dan Cengkih di Sulawesi Utara Mulai Merangkak Naik Awal Juli 2026, Petani Mulai Tersenyum
Petani di Sulawesi Utara mulai merasakan kenaikan harga kopra dan cengkih pada awal Juli 2026.

MANADO — Memasuki awal Juli 2026, para petani di Sulawesi Utara mulai merasakan perubahan positif di pasar komoditas. Harga kopra dan cengkih, dua primadona perkebunan rakyat, perlahan-lahan menunjukkan grafik kenaikan setelah beberapa waktu berada di titik rendah.

Kenaikan ini tidak terjadi secara drastis, melainkan merangkak naik secara stabil. Data yang dihimpun dari sejumlah pedagang pengumpul di Minahasa dan Bolaang Mongondow Raya mencatat adanya peningkatan harga jual di tingkat petani.

Berapa Kenaikan Harga Kopra dan Cengkih?

Meski angka pasti per kilogram belum dirilis secara resmi oleh Dinas Perkebunan setempat, para tengkulak dan koperasi unit desa (KUD) melaporkan adanya tren positif. Untuk kopra, harga jual mulai bergerak naik dari posisi terendah beberapa pekan sebelumnya. Sementara itu, harga cengkih kering juga ikut terangkat, memberikan ruang napas bagi petani yang selama ini menahan hasil panen.

Kenaikan ini disambut antusias oleh petani di Kabupaten Minahasa Selatan dan Kepulauan Sangihe. "Setelah beberapa bulan harga anjlok, sekarang mulai ada sinyal bagus. Kami berharap tren ini terus berlanjut hingga panen raya," ujar seorang petani di Amurang, Jumat (3/7/2026).

Penyebab Harga Mulai Merangkak Naik

Beberapa faktor disebut-sebut mempengaruhi pergerakan harga ini. Mulai dari meningkatnya permintaan industri pengolahan minyak kelapa dan oleokimia di dalam negeri, hingga mulai stabilnya distribusi pasca-panen di beberapa daerah sentra. Untuk cengkih, permintaan dari industri farmasi dan rokok tradisional juga ikut mendorong harga.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sulawesi Utara, melalui keterangan pers, menyebut bahwa tren positif ini harus dimanfaatkan petani dengan baik. Ia mengimbau petani untuk tidak menjual hasil panen secara tergesa-gesa di bawah harga pasar yang wajar.

Dampak bagi Perekonomian Petani Sulut

Kenaikan harga kopra dan cengkih memiliki efek domino langsung pada ekonomi pedesaan. Di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, misalnya, aktivitas jual-beli di pasar tradisional mulai bergairah kembali. Uang tunai yang diterima petani berputar lebih cepat di sektor UMKM dan jasa.

Kondisi ini menjadi kebalikan dari situasi tiga bulan sebelumnya, di mana banyak petani memilih menunda panen atau menjual dengan harga murah untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Kini, dengan harga yang mulai merangkak naik, optimisme perlahan kembali muncul.

Pemerintah provinsi diharapkan segera mengeluarkan data resmi harga acuan di tingkat petani agar transparansi pasar tetap terjaga. Para petani pun berharap tren kenaikan ini bisa bertahan hingga akhir tahun 2026.

Bagikan
Sumber: manadopost.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks