MANADO — Kebijakan besar dari dua raksasa transportasi online, Gojek dan Grab, yang menurunkan komisi mitra pengemudi hingga 8 persen mulai Juli 2026 mendatang, tidak serta merta disambut gembira oleh para driver ojol di Manado. Kekhawatiran justru muncul di tengah janji pendapatan yang lebih besar.
Tarif Penumpang Naik, Orderan Bisa Anjlok
Penurunan komisi dari angka 20 persen menjadi 8 persen ini merupakan kabar baik di atas kertas. Namun, para pengemudi menilai kebijakan ini memiliki sisi lain yang mengancam pemasukan mereka. Pasalnya, penurunan komisi untuk driver diimbangi dengan kenaikan tarif dasar untuk penumpang.
"Dulu komisi 20 persen, orderan banyak. Sekarang komisi turun jadi 8 persen, ongkos naik. Saya khawatir penumpang pada beralih ke angkot atau motor pribadi," ujar Andi, salah satu driver Grab yang mangkal di kawasan Megamas Manado, saat ditemui, Senin.
Mengapa Driver Lebih Takut Sepi Order?
Logika di balik kekhawatiran para pengemudi ini sederhana. Dengan tarif penumpang yang lebih mahal, permintaan (demand) diprediksi menurun. Jika orderan berkurang, pendapatan bersih mereka justru bisa lebih kecil dibandingkan saat komisi masih 20 persen tetapi volume orderan tinggi.
"Lebih baik komisi 20 persen tapi sehari bisa 15-20 order, daripada komisi 8 persen tapi cuma dapet 5 order. Hitung-hitungannya bisa rugi," kata Rizky, driver Gojek yang biasa beroperasi di sekitar Sam Ratulangi.
Para driver menyebut, kenaikan tarif penumpang bisa mencapai 15 hingga 20 persen dari tarif normal sebelumnya. Angka ini dianggap terlalu tinggi bagi daya beli masyarakat Manado yang sebagian besar masih mengandalkan transportasi umum konvensional.
Respons Manajemen dan Langkah Adaptasi
Manajemen Gojek dan Grab di Sulawesi Utara belum memberikan pernyataan resmi terkait kekhawatiran ini. Namun, dari informasi yang beredar di grup komunitas driver, kedua perusahaan berjanji akan menggelar sosialisasi dalam waktu dekat. Sosialisasi itu diharapkan bisa menjelaskan simulasi pendapatan baru agar para mitra tidak resah.
Meski begitu, sejumlah driver sudah mulai menyusun strategi adaptasi. Beberapa berencana memperpanjang jam operasional, sementara lainnya mulai melirik layanan antar makanan (food delivery) yang dinilai lebih stabil dibandingkan angkutan penumpang.
"Kita lihat nanti setelah 1 Juli. Kalau orderan benar-benar sepi, mungkin saya fokus ke Goride dan Gofood sekaligus," ucap Rizky.