Pencarian

Microsoft Defender dan Driver Windows Punya Celah Kritis, Hacker Bisa Kuasai Sistem dari Jarak Jauh

Minggu, 16 Agustus 2026 • 23:30:01 WIB
Microsoft Defender dan Driver Windows Punya Celah Kritis, Hacker Bisa Kuasai Sistem dari Jarak Jauh
Ilustrasi tampilan antarmuka sistem keamanan Microsoft Defender pada perangkat Windows.

SULAWESI UTARA — Riset keamanan terbaru mengungkap tiga celah kritis pada sistem operasi Windows yang dapat dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih kendali penuh perangkat. Yang paling menarik perhatian adalah kerentanan yang menyerang komponen fisik komputer, bukan hanya software.

Temuan ini relevan bagi pengguna smartphone dan pelaku bisnis digital di Indonesia yang kerap menggunakan Windows untuk operasional harian, terutama mereka yang mengandalkan akses remote. Ancaman tidak hanya datang dari email phishing atau malware, tetapi juga dari celah teknis di lapisan sistem paling dasar.

Serangan "Download More RAM" Lewat Chip SPD

Celah pertama yang dijuluki "Download More RAM" ini tercatat sebagai CVE-2026-23670. Serangan mengeksploitasi chip Serial Presence Detect (SPD) pada modul RAM yang tidak memiliki proteksi penulisan (write protection).

Dengan memanipulasi chip tersebut dari jarak jauh, peretas dapat membuat Windows membaca kapasitas memori dua kali lipat dari ukuran fisiknya. Informasi palsu ini kemudian dipakai untuk menciptakan tabrakan pemetaan alamat memori yang bisa melewati mekanisme keamanan sistem.

Dampaknya cukup serius. Peretas berpotensi mengaktifkan kembali driver yang rentan, menonaktifkan anti-malware, hingga menembus sistem keamanan berbasis virtualisasi dan kernel. Microsoft telah merilis mitigasi, sementara vendor seperti Corsair dan HWiNFO menyediakan fitur write protection untuk modul yang kompatibel.

ShieldBreak dan Ancaman "Plug and Pwn"

Dua celah lainnya menargetkan lapisan software. Kerentanan bernama ShieldBreak (CVE-2026-50656) ditemukan pada Microsoft Defender, perangkat keamanan bawaan Windows yang digunakan jutaan perangkat di Indonesia.

Selain itu, ada serangan "plug and pwn" yang menyalahgunakan proses instalasi driver otomatis Windows. Yang membuat celah ini berbahaya, peneliti menunjukkan serangan dapat dilakukan tanpa hak administrator dan secara remote melalui RDP (Remote Desktop Protocol).

Artinya, peretas tidak perlu mencolokkan perangkat USB fisik ke komputer target. Mereka cukup memanfaatkan koneksi jarak jauh untuk mengeksploitasi proses instalasi driver, yang biasanya berjalan tanpa verifikasi ketat.

Apa yang Harus Pengguna Lakukan Sekarang

Bagi pengguna Windows di Indonesia, langkah mitigasi paling utama adalah memastikan sistem operasi dan perangkat lunak keamanan selalu diperbarui ke versi terbaru. Microsoft telah menyediakan patch untuk beberapa celah yang disebutkan.

Untuk pengguna korporat yang mengandalkan RDP, sebaiknya batasi akses remote hanya untuk jaringan internal dan gunakan VPN. Hindari membuka port RDP langsung ke internet publik tanpa proteksi tambahan.

Perlu dicatat, kerentanan pada chip SPD menuntut tindakan dari produsen hardware. Pengguna yang menggunakan modul RAM dari vendor yang telah menyediakan fitur write protection disarankan segera mengaktifkannya melalui software pendukung seperti HWiNFO.

Meski belum ada laporan eksploitasi aktif di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan. Celah yang menyerang lapisan driver dan hardware cenderung lebih sulit dideteksi oleh perangkat lunak keamanan konvensional, sehingga risiko serangan senyap menjadi lebih tinggi.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jagatreview.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks