Pencarian

Bill Gates Ramal Sebagian Orang Pilih Hidup seperti Kaum Amish gegara AI

Kamis, 29 Oktober 2026 • 11:48:01 WIB
Bill Gates Ramal Sebagian Orang Pilih Hidup seperti Kaum Amish gegara AI
Pendiri Microsoft Bill Gates berbicara dalam podcast Decoder mengenai prediksi masa transisi kecerdasan buatan.

SULAWESI UTARA — Bill Gates memprediksi masa transisi kecerdasan buatan selama 20 tahun ke depan akan penuh disrupsi, dengan sebagian orang mungkin memilih hidup tanpa teknologi seperti kaum Amish. Pendiri Microsoft itu menyampaikan ramalan tersebut dalam podcast Decoder, di tengah gelombang efisiensi besar-besaran di industri teknologi global. Pandangannya menegaskan AI bukan sekadar soal produk, melainkan pergeseran cara manusia bekerja dan hidup.

Gates menyebut fase peralihan menuju era kelimpahan AI sebagai periode paling bergejolak, dengan pemenang dan pihak yang kalah di dalamnya. Ia menilai umat manusia harus melewati masa itu sebelum benar-benar memetik manfaat penuh dari teknologi tersebut.

Pernyataan itu muncul saat Microsoft mengumumkan program pengunduran diri sukarela bagi sekitar 60.000 karyawan. Langkah tersebut diduga untuk menutup biaya infrastruktur AI yang membengkak.

Kekhawatiran Utama: Transisi 20 Tahun

Dalam wawancara di podcast Decoder, Gates menempatkan masa transisi sebagai risiko terbesar, bukan visi masa depan AI itu sendiri. Menurutnya, disrupsi besar akan terjadi sebelum manfaat ekonomi benar-benar merata.

"Kekhawatiran utama saya adalah masa transisi 20 tahun ini, di mana akan ada pihak yang menang dan kalah serta banyak disrupsi dan kita harus melewati fase itu untuk bisa mencapai masa kelimpahan," kata Gates.

Pria berusia 70 tahun itu tidak melihat AI sebagai ancaman tunggal. Ia justru menyoroti ketimpangan dampak pada kelompok pekerja yang berbeda sepanjang fase peralihan.

AI Perlu Diatur Pemerintah, Bukan Hanya Perusahaan

Gates menegaskan tanggung jawab pengawasan AI tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada perusahaan begitu ada banyak pesaing di pasar. Ia membandingkannya dengan produk berbahaya lain yang sudah lebih dulu diatur negara.

"Setelah Anda punya banyak pesaing, tingkat tanggung jawabnya tak bisa lagi diserahkan kepada perusahaan. Itu sudah sangat jelas. Tanggung jawab itu jadi milik pemerintah, sama seperti pada setiap produk berbahaya lainnya, meski skala dan tingkat perubaha produk lain tersebut sangat kecil jika dibandingkan AI," ujarnya.

Isu keselamatan publik menjadi sorotan lain. Gates menyoroti risiko penyalahgunaan AI untuk kepentingan berbahaya, termasuk ancaman bioterorisme.

"Anda tentu tak ingin memfasilitasi bioterorisme. Kita telah menciptakan sesuatu yang membuat kemampuan untuk melakukan kerusakan massal tidak lagi hanya dimonopoli oleh negara—terutama negara-negara besar," imbuhnya.

Dampak ke Pekerja Kerah Putih hingga Kerah Biru

Gates memandang AI sebagai teknologi yang mampu mendorong kebaikan dengan kecepatan jauh lebih tinggi dari gelombang teknologi sebelumnya. Hampir semua industri akan terkena dampaknya.

"Seandainya ini hanyalah mesin yang bisa bekerja di bidang kedokteran atau hanya di hukum atau hanya di pendidikan, itu saja sudah akan sangat disruptif. Tapi (berdampak pada) tiap area aktivitas manusia, sejauh ini baru pekerja kerah putih, pekerjaan intelektual, tapi sebentar lagi akan mencakup aktivitas fisik dan pekerjaan kerah biru juga, melalui robot humanoid," sebutnya.

Meski begitu, ia menekankan manusia tetap punya kendali atas batasan yang diterapkan pada AI di dunia kerja. Sejumlah profesi dinilai akan dipertahankan sebagai ranah manusia.

Profesi yang Mungkin Dikhususkan untuk Manusia

Pengasuhan anak, olahraga, penyiapan makanan, dan seni disebut Gates sebagai bidang yang mungkin tetap dipegang manusia. Alasannya bukan soal kemampuan AI, melainkan pilihan nilai yang dipegang masyarakat.

"Meskipun AI bisa melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik, kita akan memilih untuk tetap melakukannya sendiri," katanya.

Dari situ, Gates membuka kemungkinan kelompok masyarakat tertentu menolak kehadiran AI sepenuhnya. Ia mencontohkan kaum Amish di Amerika Serikat, kelompok Kristen tradisionalis yang dikenal hidup sederhana, berpakaian bersahaja, dan tidak terburu-buru mengadopsi teknologi modern.

"Kita akan memiliki pilihan nyata. Kita memiliki kelompok-kelompok tidak besar, seperti kaum Amish, yang tidak hidup di garis depan teknologi. Banyak dari umat manusia mungkin memilih tidak hidup di garis depan teknologi karena hal-hal yang kita peroleh dari saling membantu atau dari menciptakan ide-ide unik," sebutnya.

Peringatan di Akhir Wawancara

Gates menutup dengan nada peringatan keras. Ia menyebut kebangkitan AI akan menjadi periode paling penuh gejolak dalam sejarah manusia.

"Saya benci jadi pembawa berita meresahkan mengenai hal ini, tapi akan jauh lebih buruk jika tidak memberi tahu orang-orang bahwa hal ini akan datang," ucapnya.

Bagi pelaku bisnis digital dan investor di Indonesia, ramalan Gates memberi sinyal bahwa adopsi AI tidak hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga soal kesiapan menghadapi disrupsi tenaga kerja dan tekanan regulasi. Pemerintah diperkirakan akan semakin aktif mengatur AI, mengikuti pola pengawasan yang sudah berlaku di sektor lain.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks