SULAWESI UTARA — Sepuluh saham mencatat penurunan terdalam di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode 26-30 Oktober 2026, dengan PT VKTR Multi Mobilitas Tbk (VKTR) memimpin pelemahan setelah ambruk 30% ke Rp280 per saham. Tekanan jual masif terjadi di hampir seluruh sektor, seiring IHSG yang tergerus 7,03% ke level 5.057 dalam rentang waktu yang sama.
Statistik BEI yang dirilis Sabtu (31/10/2026) menempatkan VKTR di puncak daftar top losers pekan lalu. Harga saham emiten kendaraan listrik itu merosot dari Rp400 menjadi Rp280, kehilangan hampir sepertiga kapitalisasi pasarnya dalam lima hari perdagangan.
Posisi kedua dihuni PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) yang menyusut 29,94% ke Rp2.270. Disusul PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan pelemahan 29,55% ke Rp620, dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH) yang tergelincir 29,39% ke Rp925.
Daftar Lengkap Sepuluh Saham Paling Tertekan
Mayoritas emiten dalam daftar ini terpuruk mendekati batas auto reject bawah harian. Berikut rincian pergerakan harga masing-masing saham:
- PT VKTR Multi Mobilitas Tbk (VKTR): -30% ke Rp280
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA): -29,94% ke Rp2.270
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): -29,55% ke Rp620
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH): -29,39% ke Rp925
- PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI): -29,28% ke Rp256
- PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI): -29,15% ke Rp705
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU): -28,70% ke Rp77
- PT Personel Alih Daya Tbk (PADA): -28,35% ke Rp91
- PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA): -28,30% ke Rp152
- PT Futura Energi Global Tbk (FUTR): -28,14% ke Rp120
FUTR Jadi Koreksi Terbatas, tapi Tetap di Zona Merah
PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) menutup daftar dengan pelemahan paling ringan di antara sepuluh emiten, yakni 28,14%. Saham FUTR turun ke Rp120 dari posisi pekan sebelumnya Rp167.
Meski menjadi yang paling kecil koreksinya, penurunan FUTR tetap mencerminkan tekanan jual yang merata. Tidak ada satu pun saham dalam daftar yang berhasil menahan pelemahan di bawah 28%.
Tekanan Jual Merata di Berbagai Sektor
Daftar ini menunjukkan keragaman sektor yang terkena tekanan: energi (ENRG), pertambangan nikel (IFSH), konstruksi (ASLI), hingga sumber daya manusia (PADA). VKTR mewakili sektor kendaraan listrik yang belakangan jadi sorotan pasar modal.
Penurunan IHSG sebesar 7,03% dalam sepekan ke 5.057 menjadi konteks utama. Koreksi indeks sebesar itu biasanya diikuti aksi jual lintas sektor, terutama pada saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah yang likuiditasnya tipis.
Apa Artinya bagi Investor
Saham-saham di daftar top losers umumnya punya kapitalisasi pasar relatif kecil dengan volume perdagangan yang tidak terlalu tebal. Kondisi ini membuat harganya mudah tertekan saat sentimen pasar memburuk, sekaligus rentan terhadap lonjakan volatilitas saat ada arus dana masuk kembali.
Bagi pemegang saham VKTR dan emiten lain dalam daftar, pekan depan menjadi ujian apakah level harga saat ini mampu bertahan atau justru berlanjut turun. Investor perlu mencermati laporan keuangan kuartal ketiga dan arus net sell asing untuk menilai apakah tekanan jual masih berlanjut.