SULAWESI UTARA — Tiga perjanjian dagang baru disiapkan pemerintah untuk menambah devisa ekspor hingga USD 14,7 miliar. Nilai itu berasal dari proyeksi dampak Indonesia-EU CEPA, Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-EAEU FTA yang ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menempatkan tiga kesepakatan dagang sebagai prioritas perluasan akses pasar, masing-masing I-EU CEPA, I-CA CEPA, dan I-EAEU FTA. Dasar perhitungannya bukan sekadar penurunan tarif, melainkan selisih antara nilai ekspor yang sudah berjalan dan potensi yang masih bisa diraih di negara mitra.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut optimalisasi perjanjian dagang yang sudah maupun akan berlaku menjadi kunci. Fokusnya bukan hanya membuka pasar, tetapi juga mendorong eksportir memakai fasilitas perdagangan yang tersedia.
Hasil analisis dampak FTA/CEPA menunjukkan I-EU CEPA berpotensi menambah ekspor hingga USD 10,9 miliar. I-CA CEPA menyumbang sekitar USD 1,6 miliar, sedangkan I-EAEU FTA berkisar USD 2,2 miliar sampai USD 2,89 miliar.
Totalnya mencapai kisaran USD 14,7 miliar hingga USD 15,4 miliar. Angka itu mencerminkan ruang ekspansi, bukan realisasi otomatis, sehingga eksekusi di sisi eksportir menentukan hasil akhirnya.
Untuk Uni Eropa, EFTA, dan Inggris, peluang terbesar ada pada kelapa sawit dan produk turunannya, kendaraan bermotor, kopi, kakao, karet, besi dan baja, kayu olahan, serta produk perikanan. Di Kanada, mineral dan logam, produk kimia, kendaraan, kayu, karet, mesin, dan peralatan elektronik menjadi tumpuan.
Kawasan EAEU memberi ruang bagi produk kimia, produk nabati, kendaraan, mineral dan logam, kayu, kertas, karet, serta plastik. Pada tingkat komoditas, kelapa sawit, alas kaki, udang, karet alam, kopi, dan minyak atsiri disebut memperoleh perlakuan tarif lebih baik lewat I-EAEU FTA.
Pemerintah memakai Export Potential Analysis untuk memetakan komoditas dengan export gap besar. Metodenya membandingkan nilai ekspor existing dengan nilai yang masih mungkin dicapai di pasar mitra, sehingga arah kebijakan bisa lebih spesifik ketimbang sekadar mengejar volume.
Airlangga menegaskan sinergi antara pemanfaatan CEPA/FTA dan komoditas unggulan menjadi fokus ke depan. Basis produksi domestik yang kuat dan permintaan besar di negara mitra jadi dua syarat yang harus bertemu.
"Ke depan, fokus Pemerintah adalah menyinergikan pemanfaatan CEPA dan FTA dengan komoditas unggulan yang memiliki basis produksi domestik kuat serta potensi pasar besar di negara mitra," ujar Airlangga.
Bagi eksportir, penurunan tarif belum otomatis menaikkan pengiriman. Kesiapan sertifikasi, standar mutu, dan kapasitas produksi tetap jadi penentu, terutama untuk pasar Uni Eropa yang menerapkan aturan ketat pada sawit dan produk pertanian.
Pelaku usaha di sektor alas kaki, perikanan, dan kopi punya peluang paling cepat direalisasikan karena basis produksi sudah terbentuk. Sementara baja, otomotif, dan elektronik butuh penyesuaian rantai pasok sebelum bisa memanfaatkan tarif yang lebih rendah.