SULAWESI UTARA — Bermain di MetLife Stadium, New Jersey, Brasil nyaris menelan kekalahan memalukan di pertandingan pertama mereka. Maroko tampil percaya diri dan membuka keunggulan lebih dulu lewat gol indah Ismael Saibari pada menit ke-28. Berawal dari umpan terobosan Brhaim Díaz, Saibari dengan tenang melob bola melewati kiper Alisson Becker.
Lini Tengah Brasil Kocar-kacir, Bouaddi Jadi Momok
Sepanjang babak pertama, duet Casemiro dan Bruno Guimarães di lini tengah Brasil kesulitan meredam pergerakan remaja Maroko, Ayyoub Bouaddi. Gelandang berusia 18 tahun itu tampil dewasa dan menjadi motor serangan, membuat Brasil terus-terusan mengejar bayangan. Ancelotti mengakui timnya tampil cemas dan gugup di awal laga.
"Ini pertandingan yang sulit, terutama di awal. Tim terlalu cemas dan saraf tidak terkendali. Kami harus mengevaluasi ulang permainan ini, tapi jangan patah semangat—Anda tidak memenangi Piala Dunia hanya dari laga pertama," ujar Ancelotti dalam konferensi pers usai pertandingan.
Vinícius Junior Akhirnya Bicara di Panggung Internasional
Brasil baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-34. Vinícius Júnior menerima umpan Bruno Guimarães di sisi kanan gawang, mengecoh Neil El Aynaoui, lalu melepaskan tembakan keras dari sudut sempit yang tak mampu dihalau Yassine Bounou. Ini menjadi gol ke-10 Vinícius dalam 50 penampilannya bersama Seleção—sebuah catatan yang masih di bawah ekspektasi mengingat performa gemilangnya di Real Madrid.
Dengan Neymar yang masih dibekap cedera betis, Ancelotti sangat bergantung pada Vinícius untuk menjadi pembeda. "Kami perlu meningkatkan banyak hal," tambah Ancelotti. "Tapi setidaknya kami tidak kalah."
Ancelotti Akui Salah Pilih Starter, Rotasi Besar di Babak Kedua
Keputusan Ancelotti menempatkan Roger Ibañez sebagai bek kanan langsung menjadi sasaran empuk Maroko. Noussair Mazraoui dan kawan-kawan terus menekan sisi tersebut. Casemiro dan Ibañez bahkan diganti di babak kedua oleh Fabinho dan Danilo, sebagai pengakuan bahwa pilihan awal Ancelotti keliru. Hasilnya, Brasil tampil lebih terstruktur dan mampu mendorong Maroko ke wilayah sendiri.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, yang baru ditunjuk pada Maret lalu setelah memenangi Piala Dunia U-20, mengaku anak asuhnya kecewa tidak bisa menang. "Di babak kedua ritme kami menurun, tapi itu wajar melawan tim sekelas Brasil," ujarnya.
Maroko Hampir Menang di Akhir Laga, Brasil Bersyukur
Maroko nyaris mencuri kemenangan di menit akhir setelah Alisson melakukan kesalahan dalam menangkap bola. Namun, penyelamatan gemilang kiper Liverpool itu dan ketidakberuntungan Maroko membuat skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang. Brasil kini harus segera berbenah jika ingin bersaing di turnamen yang sudah memasuki edisi keenam ini.