SULAWESI UTARA — Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkapkan episenter gempa terletak di darat, 54 kilometer tenggara Palu, dengan kedalaman 11 kilometer. "Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Guncangan Terasa hingga Skala V MMI di Balinggi
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault). Guncangan dirasakan paling kuat di Balinggi, Parigi Moutong, dengan skala intensitas V Modified Mercalli Intensity (MMI).
Skala intensitas IV-V MMI terasa di Palolo, Sigi, Torue, dan Parigi Moutong. Sementara itu, guncangan skala III MMI dilaporkan di Kota Sigi Biromaru dan Kota Poso. Di Kota Palu sendiri, gempa terasa pada skala II-III MMI, dan skala II MMI di Kota Donggala serta Kota Pasangkayu.
Rangkaian 354 Gempa Susulan Pasca-Gempa M 6,7
Wijayanto menegaskan gempa ini merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan (aftershock) pasca-gempa bumi M 6,7 yang mengguncang Palu pada 16 Juni 2026 pukul 10.27.45 WIB. Hingga pukul 02.00 WIB hari ini, BMKG mencatat total 354 aktivitas gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai M 5,2.
"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Wijayanto.
Imbauan Warga: Tetap Tenang dan Tak Percaya Isu Tak Bertanggung Jawab
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah Palu dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Lembaga itu terus memantau perkembangan aktivitas seismik di kawasan tersebut.