SULAWESI UTARA — Kabar penutupan Rovio Copenhagen pertama kali mencuat dari laporan media asing yang mengonfirmasi bahwa proyek Sonic Blitz—game mobile yang tengah dikembangkan studio tersebut—resmi dihentikan. Rovio Copenhagen sendiri merupakan cabang studio yang dibentuk setelah SEGA mengakuisisi Rovio Entertainment pada 2023 lalu.
Keputusan ini diambil sebagai bagian dari efisiensi operasional SEGA di sektor game mobile. Penutupan studio ini otomatis berdampak pada nasib puluhan karyawan yang bekerja di sana, meski SEGA belum merilis angka resmi jumlah karyawan yang terdampak.
Mengapa SEGA Membatalkan Sonic Blitz?
Padahal, Sonic Blitz sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu proyek ambisius Rovio Copenhagen. Game ini dirancang sebagai runner ber-genre endless dengan mekanisme roguelike yang menyasar pemain kasual hingga mid-core.
Namun, sumber internal menyebut performa soft launch game tersebut jauh dari ekspektasi. Metrik retention dan monetization yang rendah menjadi alasan utama SEGA menarik plug. Alih-alih meneruskan pengembangan, SEGA memilih memotong kerugian lebih awal.
Keputusan ini juga sejalan dengan strategi SEGA yang mulai menggeser fokus dari game mobile live-service ke port premium dan judul multi-platform. Beberapa game Sonic terbaru justru lebih diarahkan ke konsol dan PC.
Nasib Karyawan dan Proyek Lain di Rovigo Copenhagen
Belum ada pernyataan resmi dari manajemen Rovio mengenai paket severance atau opsi relokasi bagi karyawan yang terkena PHK. Yang jelas, penutupan Rovio Copenhagen menyisakan Rovio Espoo di Finlandia sebagai kantor pusat utama yang masih beroperasi.
Kabar ini makin memanaskan suasana industri game Eropa yang memang sedang dilanda badai PHK sepanjang 2024-2025. Sebelumnya, sejumlah studio besar seperti Bungie, Epic Games, dan Riot Games juga melakukan pengurangan karyawan besar-besaran.
Apa Dampaknya ke Franchise Sonic?
Pembatalan Sonic Blitz tidak serta-merta menghentikan produksi game Sonic di platform lain. SEGA baru saja mengumumkan Sonic Racing Crossworld yang akan hadir dengan kolaborasi akbar bersama Godzilla dan Evangelion dalam rangka perayaan 35 tahun franchise Sonic.
Artinya, SEGA tetap serius menggarap IP Sonic, tapi dengan prioritas yang berbeda. Fokus utama mereka kini ada di game konsol dan PC, sementara lini mobile akan lebih selektif.
Persona 6 dan Virtua Fighter Jadi Prioritas Baru SEGA
Di tengah kabar penutupan ini, SEGA justru gencar mengumumkan proyek-proyek besar lainnya. Salah satunya, konfirmasi bahwa Persona 6 akan mendapatkan versi fisik—namun hanya untuk satu platform saja. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan penggemar JRPG, terutama yang bermain di platform lain.
Selain itu, SEGA dan Ryu Ga Gotoku Studio akhirnya mengungkap proyek terbaru seri Virtua Fighter yang resmi berjudul Virtua Fighter Crossroads. Game fighting legendaris ini dijadwalkan menjadi salah satu andalan SEGA untuk menarik pemain kompetitif di scene esport.
Bagi pemain di Indonesia, kabar penutupan Rovio Copenhagen ini patut dicermati. SEGA tampaknya sedang dalam fase transisi besar—meninggalkan model bisnis lama dan beralih ke strategi yang lebih berkelanjutan. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan memperkuat ekosistem game SEGA secara keseluruhan atau justru memangkas lini yang berpotensi besar di pasar mobile Asia Tenggara?