Pencarian

Sisa Gas Blok South Andaman 140 MMscfd Akhirnya Laku, Pembelinya Kilang Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 • 09:19:31 WIB
Sisa Gas Blok South Andaman 140 MMscfd Akhirnya Laku, Pembelinya Kilang Malaysia
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan sisa gas pipa Blok South Andaman telah memiliki pembeli.

SULAWESI UTARA — SKK Migas memastikan sekitar 140 MMscfd gas pipa Blok South Andaman yang belum terjual kini punya pembeli, yakni kilang petrochemical milik perusahaan Malaysia yang akan dibangun di Aceh. Kepastian ini menutup kekosongan pembeli yang sempat jadi ganjalan proyek gas raksasa yang dikelola Mubadala Energy tersebut.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut harga gas sudah disepakati US$9 per MMBTU. Kesepakatan itu, menurut dia, menghilangkan persoalan utama yang selama ini membayangi penyerapan sisa gas pipa dari blok di lepas pantai Aceh tersebut. Pembeli baru itu menyatakan sanggup menyerap volume yang tersisa setelah sebagian gas sudah dikontrak PLN.

Djoko menyampaikan informasi itu usai menutup Forum Ekonomi (FOREK) Hulu Migas 2026, Kamis sore (29/10). Ia mengaku baru menerima kabar tersebut dan belum bisa menyebut identitas industri yang akan menyerap gas.

"Saya baru dapat masukan informasi, dikirim oleh ke saya, sisa gas pipa yang belum diserap, itu akan diserap oleh kilang (petrochemical) yang akan dibangun di Aceh," kata Djoko.

Harga Gas Disepakati US$9 per MMBTU

Soal harga menjadi poin yang ditekankan Djoko. Menurut dia, pembeli baru itu menyatakan kesanggupan membayar US$9 per MMBTU, angka yang membuat sisa gas pipa South Andaman tak lagi menggantung tanpa kepastian.

"Alhamdulillah hari ini mereka menyatakan sanggup harganya US$9 per MMBTU," ungkapnya.

Perjanjian jual beli gas lebih lanjut masih akan dibahas kedua pihak. Meski begitu, Djoko menilai persoalan inti sudah selesai karena tidak ada lagi masalah dari sisi harga maupun kepastian pembeli.

Kilang Baru di Aceh, Investor dari Malaysia

Fasilitas yang akan menyerap gas tersebut adalah kilang minyak dan petrochemical yang tengah disiapkan di Aceh. Djoko menyebut proyek itu dikerjakan lewat kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia.

"Di Aceh yang bikin kilang minyak dan Petrochemical, kilang baru kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia," kata Djoko.

Ia belum membeberkan nama industri maupun perusahaan Malaysia yang dimaksud. Yang jelas, kilang itu akan menjadi pembeli gas pipa South Andaman di luar PLN.

Produksi Mulai 2028, PLN Sudah Kontrak 160 MMscfd

Blok South Andaman dikelola Mubadala Energy dan diproyeksikan mulai mengalirkan gas pada 2028. Produksi gasnya ditargetkan mencapai 312 MMscfd, ditambah kondensat 7.500 BCPD.

Dari volume itu, PLN sudah lebih dulu membeli 160 MMscfd untuk kebutuhan pembangkit listrik. Sisa sekitar 140 MMscfd yang semula belum ada pembelinya kini masuk ke kilang petrochemical di Aceh.

Cadangan gas dari lapangan Tangkulo di blok tersebut diperkirakan mencapai 1 Triliun Cubic Feet (TCF). Pengembangan lanjutan ke lapangan Selayar dan lapangan terdekat lainnya membuat total cadangan gas yang telah ditemukan di kawasan itu mencapai 10 TCF.

Skema Gross Split dan Porsi Mubadala

South Andaman sejak awal eksplorasi menggunakan skema kontrak gross split. Mubadala Energy memegang participating interest 80 persen, sementara Harbour Oil memiliki 20 persen yang rencananya dilepas melalui mekanisme farm-out.

Bagi Aceh, masuknya kilang petrochemical sebagai penyerap gas berarti ada pembeli domestik yang menambah nilai tambah di hilir, bukan sekadar mengekspor molekul gas mentah. Kepastian penyerapan 140 MMscfd juga memperkuat hitungan keekonomian proyek yang menjadi salah satu andalan produksi gas nasional setelah 2028.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks