SULAWESI UTARA — BMW mempersiapkan generasi kelima X5 dengan pendekatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Crossover andalan yang menjadi penyumbang pendapatan terbesar BMW secara global ini akan ditawarkan dalam lima varian powertrain berbeda dalam satu arsitektur sasis yang sama. Langkah ini, menurut BMW, adalah jawaban atas ketidakpastian regulasi kendaraan emisi di berbagai negara.
Lima Jenis Penggerak, Satu Platform
Dalam konferensi pers media, Phillip Koehn, vehicle line director untuk BMW Luxury Class, Rolls-Royce, dan BMW Alpina, mengungkapkan bahwa X5 baru akan mengakomodasi mesin 48-volt mild hybrid, plug-in hybrid, diesel, baterai listrik murni (BEV), dan hydrogen fuel cell. Semua varian ini lahir dari platform dasar yang sama dengan penyesuaian khusus untuk masing-masing tipe penggerak.
"Electrification mengajarkan kami bahwa mengandalkan regulasi dan subsidi pemerintah adalah sesuatu yang bisa muncul dan lenyap," ujar Koehn. "Maka muncullah pendekatan technology agnostic yang diusung Oliver Zipse. Saya sangat yakin ini satu-satunya jalan ke depan bagi pabrikan premium."
Strategi Menghadapi Ketidakpastian Regulasi Global
BMW tidak ingin mengulangi kesalahan industri otomotif yang terlalu bertaruh pada satu jenis teknologi. Dengan pendekatan ini, X5 bisa dijual di lebih dari 120 pasar tanpa khawatir perubahan kebijakan di Washington, Brussels, atau Beijing. Setiap pasar akan mendapatkan varian yang paling sesuai dengan regulasi dan permintaan lokal.
Koehn mencontohkan bahwa siklus pengembangan mobil dari awal produksi hingga akhir bisa mencapai sepuluh tahun. "Dalam satu dekade, Anda bisa melihat administrasi baru di Washington, subsidi Inflation Reduction Act yang datang dan pergi. Jika kami mencoba mengikuti semua perubahan itu, kami tidak akan mampu bertahan," tambahnya.
Konsumen Tak Perlu Pusing Memilih
Salah satu janji utama BMW adalah bahwa keputusan memilih powertrain tidak akan memengaruhi pengalaman berkendara secara fundamental. Ruang kabin, kapasitas bagasi, dan kemampuan towing dirancang identik di semua varian. "Kami hampir berhasil memisahkan keputusan memilih body style X5 dari pertanyaan 'powertrain apa yang saya butuhkan?'," jelas Koehn.
Dengan kata lain, konsumen cukup memutuskan ingin X5, lalu tinggal memilih "rasa" powertrain yang diinginkan — tanpa kompromi ruang atau fungsi. BMW optimistis pendekatan ini akan membuat X5 tetap relevan di tengah gejolak industri, meskipun pangsa pasar kendaraan listrik di Amerika Utara masih belum pasti.
Apa Artinya bagi Pasar Indonesia?
BMW belum mengumumkan varian mana yang akan masuk ke Indonesia. Namun, melihat tren pasar lokal yang masih didominasi mesin bensin dan diesel, kemungkinan besar varian mild hybrid dan plug-in hybrid akan menjadi pilihan utama. Varian listrik murni dan hidrogen kemungkinan baru menyusul jika infrastruktur pengisian daya dan regulasi sudah mendukung.
Generasi kelima X5 dijadwalkan memulai produksi massal dalam beberapa tahun ke depan. BMW menegaskan bahwa pendekatan technology agnostic ini akan diterapkan juga pada model-model lain, termasuk 3-Series generasi mendatang.