SULAWESI UTARA — Tekanan pada harga solar di AS tidak bisa dilepaskan dari kondisi geopolitik yang memanas. Reuters melaporkan Selasa pagi bahwa Rusia berpotensi memperpanjang larangan ekspor bahan bakarnya hingga September 2025. Larangan ini merupakan konsekuensi dari serangan drone Ukraina yang berhasil melumpuhkan sejumlah kilang minyak utama Rusia, sehingga kapasitas produksinya anjlok drastis.
Padahal, Rusia selama ini dikenal sebagai eksportir bahan bakar terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Ketika pasokan dari negara tersebut tersendat, harga acuan global otomatis merangkak naik dan ikut menyeret pasar Amerika Utara.
Selat Hormuz Jadi Titik Macet Pasokan Minyak Dunia
Faktor kedua yang tak kalah krusial adalah melambatnya pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur air strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini biasanya dilalui sekitar 100 kapal setiap harinya. Kini, hanya angka tunggal yang diizinkan melintas setiap hari.
Penyempitan arus lalu lintas ini terjadi sejak akhir Februari dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Akibatnya, volume minyak mentah dan produk olahan yang sampai ke pasar internasional berkurang signifikan, sementara permintaan global tidak ikut turun. Kelangkaan inilah yang kemudian membuat harga minyak yang tersedia menjadi semakin mahal.
Petani dan Sopir Truk Paling Merasakan Dampaknya
Kenaikan harga solar bukan sekadar angka di pompa bensin. Axios melaporkan bahwa bahan bakar diesel menyumbang 3-5 persen dari total biaya produksi petani AS untuk gandum, jagung, dan komoditas utama lainnya. Sebelum barang diangkut keluar dari lahan pertanian, biaya operasional sudah membengkak lebih dulu.
Para pengemudi truk juga berada dalam posisi sulit. Mereka kini membayar rata-rata USD 1,94 lebih mahal per galon dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk truk dengan dua tangki berkapasitas 100 galon, sekali pengisian penuh dari kosong berarti tambahan biaya USD 388 atau sekitar Rp 6,2 juta.
Dengan konsumsi bahan bakar truk bermuatan yang berkisar delapan mil per galon di jalan tol, seorang sopir bisa berhenti mengisi bahan bakar dua kali dalam sepekan. Jika dihitung delapan kali pengisian dalam sebulan, total pengeluaran solar mencapai USD 9.040—lebih mahal USD 3.104 dibandingkan Agustus 2025.
Rekor Harga Tertinggi Belum Terlewati, tapi Jaraknya Tipis
Harga solar nasional saat ini memang belum menembus rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD 5,82 per galon yang tercatat pada Mei 2022. Namun, jarak hanya 20 sen dirasa cukup dekat mengingat laju kenaikan yang terjadi belakangan ini. Jika pasokan dari Rusia dan Selat Hormuz tidak segera pulih, bukan tidak mungkin rekor baru akan segera tercipta.
Konsekuensinya, biaya logistik barang-barang kebutuhan sehari-hari di AS akan ikut melonjak dalam beberapa pekan ke depan. Tekanan inflasi yang sempat mereda berpotensi kembali menguat, dan pada akhirnya harga di rak-rak supermarket yang harus menanggung beban kenaikan ini.