Pencarian

Konsensus Bloomberg: Ekspor Agustus Diproyeksi Melambat ke 4,15%, Impor Melaju 30,47%

Rabu, 30 September 2026 • 11:48:01 WIB
Konsensus Bloomberg: Ekspor Agustus Diproyeksi Melambat ke 4,15%, Impor Melaju 30,47%
Konsensus Bloomberg memproyeksikan ekspor Indonesia Agustus tumbuh 4,15% yoy, melambat dari 6,05% yoy pada Juli.

SULAWESI UTARA — Konsensus yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan ekspor Indonesia pada Agustus hanya tumbuh 4,15% secara tahunan, melambat dari capaian Juli yang mencapai 6,05% yoy senilai US$26,22 miliar. Di sisi lain, impor justru diperkirakan melesat 30,47% yoy, menciptakan ketimpangan kinerja perdagangan yang kian melebar. Neraca perdagangan bulan ini diprediksi surplus US$700 juta, membaik dari surplus Juli sebesar US$122 juta.

Proyeksi tersebut muncul dari konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg, menjelang rilis data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) untuk periode Agustus. Perlambatan ekspor menjadi sinyal yang perlu dicermati pelaku pasar, terutama karena ekspor merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah permintaan global yang belum sepenuhnya pulih.

Jika proyeksi itu terealisasi, pertumbuhan ekspor Agustus akan menjadi yang terendah dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai perbandingan, ekspor Juli sudah tercatat US$26,22 miliar dengan pertumbuhan 6,05% yoy, dan angka Agustus diprediksi hanya naik 4,15% yoy.

Impor Tumbuh Jauh Lebih Kencang

Di sisi impor, konsensus Bloomberg justru memperkirakan lonjakan signifikan. Pertumbuhan impor Agustus diproyeksi mencapai 30,47% yoy, jauh melampaui laju ekspor. Angka ini menjadi perhatian karena impor yang tumbuh terlalu cepat bisa menekan neraca perdagangan dan memperlebar defisit transaksi berjalan.

Meski demikian, neraca perdagangan Agustus masih diprediksi mencatat surplus US$700 juta. Capaian itu lebih tinggi dibandingkan surplus Juli yang hanya US$122 juta, meskipun secara struktural tetap lebih tipis dibandingkan periode surplus besar pada 2022-2023.

PMI Manufaktur China Kembali ke Zona Ekspansi

China merupakan mitra dagang utama Indonesia, sehingga aktivitas manufakturnya kerap menjadi panduan bagi kinerja ekspor nasional. Data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China pada Agustus kembali masuk zona ekspansi di level 51,7, setelah sebelumnya sempat tertekan di bawah 50.

Angka PMI di atas 50 menandakan ekspansi aktivitas manufaktur, yang biasanya berbanding lurus dengan permintaan bahan baku dan komoditas dari negara mitra dagang seperti Indonesia. Pemulihan manufaktur China menjadi harapan bagi eksportir dalam negeri, terutama untuk komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, dan produk turunannya.

Tekanan pada Rupiah dan Sektor Eksportir

Kombinasi ekspor yang melambat dan impor yang melesat berpotensi memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Aliran devisa dari ekspor yang tidak sekuat perkiraan bisa membuat pasokan dolar di pasar domestik lebih terbatas, sementara kebutuhan impor meningkat.

Bagi investor di pasar saham, data ini menjadi sinyal untuk mencermati emiten berbasis komoditas dan eksportir. Saham-saham di sektor pertambangan, perkebunan, dan energi biasanya paling sensitif terhadap perubahan kinerja ekspor. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada bahan baku impor bisa mendapat tekanan jika rupiah melemah.

Pelaku pasar juga akan menanti rilis data resmi BPS untuk melihat apakah proyeksi konsensus Bloomberg ini terealisasi atau meleset. Selisih antara proyeksi dan realisasi kerap menjadi pemicu pergerakan pasar obligasi dan valuta asing di sesi perdagangan berikutnya.

Follow kabarbitung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks