SULAWESI UTARA — Suhu permukaan laut di zona pemantauan El Nino, Nino3.4, menembus 29,70 derajat Celsius pada September dan memecahkan rekor sepanjang sejarah pengamatan. Layanan Perubahan Iklim Uni Eropa Copernicus mencatat angka itu melampaui puncak El Nino 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016, padahal fenomena ini diperkirakan baru mencapai puncak pada Desember. Kondisi ini memperbesar risiko kekeringan, banjir, dan percepatan pemanasan global di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Badan Meteorologi Jepang pada Jumat (9/10) menyatakan El Nino telah mencapai intensitas terkuat yang pernah tercatat, dengan suhu di area pemantauan berada 4 derajat Celsius di atas normal. Pengukuran itu memperkuat sinyal bahwa siklus alami pemanasan laut di Pasifik tropis kali ini bergerak lebih agresif dibanding periode-periode sebelumnya.
El Nino adalah siklus yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar 9-12 bulan. Peningkatan suhu laut di Pasifik tropis mengubah pola cuaca global, memicu kekeringan di sebagian wilayah dan banjir di wilayah lain, sekaligus memperparah pemanasan global yang sudah berlangsung.
Rekor Suhu di Zona Pemantauan Nino3.4
Copernicus mencatat suhu permukaan laut di wilayah pemantauan El Nino atau Nino3.4 mencapai titik tertinggi sepanjang masa di angka 29,70 derajat Celsius pada September. Angka tersebut melewati suhu puncak peristiwa El Nino sebelumnya pada tahun 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
Yang membuat para peneliti khawatir, rekor ini tercipta sebelum El Nino mencapai puncaknya. Fenomena ini diperkirakan baru akan mencapai titik tertinggi pada Desember mendatang, yang berarti masih ada ruang bagi suhu laut untuk terus naik dalam beberapa bulan ke depan.
Mengapa Perbandingan Historis Sulit Dilakukan
Copernicus belum bisa memastikan El Nino saat ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat. Pasalnya, perubahan iklim turut berkontribusi meningkatkan suhu laut sehingga perbandingan dengan peristiwa masa lalu menjadi rumit. Peristiwa El Nino terkini bisa tampak lebih kuat daripada peristiwa lama karena pengaruh faktor pemanasan global lain.
Jika diukur menggunakan indeks baru yang memperhitungkan pemanasan laut tropis, El Nino saat ini belum lebih kuat daripada peristiwa sebelumnya. Tidak semua prakirawan cuaca juga menggunakan skala yang sama untuk menginterpretasikan El Nino, sehingga perbandingan antarlembaga bisa berbeda.
September Terpanas Kedua dalam Sejarah
Suhu permukaan laut rata-rata global mencapai rekor 21,05 derajat Celsius pada September tahun ini, melampaui rekor sebelumnya yaitu 20,92 derajat Celsius pada September 2023. Data tersebut menempatkan September tahun ini sebagai bulan September terpanas kedua dalam sejarah, dengan suhu udara permukaan rata-rata mencapai 16,27 derajat Celsius.
Suhu bulan September itu tercatat 1,63 derajat Celsius lebih tinggi daripada rata-rata pra-industri periode 1850-1900. Pada konferensi iklim PBB di Paris tahun 2015, negara-negara bersepakat menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri dan membatasinya hingga 1,5 derajat Celsius.
Peringatan Copernicus dan Proyeksi 2027
Direktur Copernicus Carlo Buontempo menyatakan dunia sedang memasuki periode baru dengan suhu yang konsisten berada di atas 1,5 derajat Celsius.
"Kita memasuki periode baru dengan suhu di atas 1,5 derajat Celsius selama beberapa bulan terakhir, dan dengan El Nino yang masih terus meningkat, kemungkinan besar kondisi ini akan berlanjut hingga tahun 2027," kata Buontempo dalam sebuah pernyataan.
Para peneliti menekankan pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil untuk membatasi durasi periode peningkatan suhu di atas 1,5 derajat Celsius dan menurunkan suhu kembali secepat mungkin. Tanpa pengurangan emisi yang signifikan, El Nino diperkirakan akan mendorong suhu global menembus rekor baru pada 2027.
Bagi Indonesia, penguatan El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau, menurunkan curah hujan, dan meningkatkan risiko kebakaran lahan di sejumlah daerah. Pemantauan berkelanjutan dari Copernicus dan badan meteorologi regional menjadi acuan utama untuk mengantisipasi dampak lanjutan hingga puncak El Nino pada Desember.