MINAHASA SELATAN — Laporan realisasi anggaran per 24 Oktober 2026 menempatkan Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Selatan pada posisi yang sulit dipertahankan. Dari pagu Rp 2,84 miliar, hanya Rp 1,56 miliar yang sudah dibelanjakan.
Angka 55,19 persen itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Pelaku industri wisata dan penggiat lokal menilai lambatnya eksekusi berdampak langsung pada pengembangan destinasi, promosi, dan pemberdayaan ekonomi kreatif di daerah.
Dana Rp 1,27 Miliar Masih Mengendap di Kas Daerah
Selisih antara pagu dan realisasi mencapai Rp 1,27 miliar. Nominal sebesar itu belum menghasilkan program apa pun yang bisa dirasakan warga dan pelaku usaha wisata di Minsel.
Sejumlah penggiat wisata mendesak dinas terkait bekerja lebih agresif dan profesional. Mereka menilai sektor pariwisata berisiko hanya jadi slogan di atas kertas jika pola penyerapan anggaran tidak berubah.
Retribusi Nol di Target Awal, tapi Ada Pemasukan Rp 83,72 Juta
Ada temuan lain yang tak kalah janggal. Sektor pendapatan retribusi atau sumber lain di bawah Dinas Pariwisata tercatat nol pada target awal.
Meski begitu, laporan inputan SIPD mencatat pemasukan lain sebesar Rp 83,72 juta. Ketidaksesuaian antara target dan realisasi pendapatan ini menambah daftar pertanyaan soal pengelolaan anggaran di instansi tersebut.
Kadis Pariwisata Minsel Janji Realisasi 100 Persen Akhir Tahun
Kepala Dinas Pariwisata Minsel Evert Kawalo tidak menampik angka serapan tersebut. Ia menyebut penyebabnya ada pada posisi anggaran kas triwulan IV.
"Iya, karena dalam Anggaran Kas Triwulan IV yang pekerjaan Belanja Modal Dinas Pariwisata. Jadi di akhir tahun pasti 100 persen realisasinya," kata Evert, singkat.
Klaim itu menyisakan dua bulan tersisa di 2026. Publik Minsel tinggal menunggu apakah Rp 1,27 miliar yang belum terserap benar-benar tereksekusi, atau justru menambah panjang daftar anggaran yang gagal direalisasikan.