Peluncuran produk yang sudah dikembangkan selama lebih dari satu dekade ini berlangsung pada Selasa lalu. Namun alih-alih mendongkrak kepercayaan pasar, harga eceran Spectacles justru menjadi ganjalan utama. Saham Snap yang dibuka di US$ 5,86 pada hari peluncuran langsung jatuh ke level terendah US$ 4,83 pada Rabu pagi. Hingga berita ini ditulis, harga saham belum pulih ke posisi semula.
Dalam setahun terakhir, saham Snap tercatat sudah turun 30 persen. Kinerja keuangan perusahaan induk Snapchat ini memang sedang dalam tekanan, dan Spectacles seharusnya menjadi katalis positif. Kenyataannya, reaksi pasar justru sebaliknya.
Spek Mahal yang Sulit Dijual ke Anak Muda
Masalah utama ada di banderol harga. US$ 2.200 per unit menempatkan Spectacles di posisi yang janggal: lebih mahal dari kacamata Ray-Ban Meta milik Meta yang cuma beberapa ratus dolar, namun masih di bawah headset Vision Pro milik Apple yang harganya US$ 3.499. Bedanya, Ray-Ban Meta menawarkan fitur lebih sederhana seperti kamera dan speaker, sementara Spectacles mengusung komputasi imersif penuh.
Masalahnya, demografi pengguna Snapchat sebagian besar adalah remaja dan dewasa muda. Kelompok usia ini secara umum tidak memiliki daya beli untuk perangkat seharga puluhan juta rupiah. Para analis pun mempertanyakan strategi monetisasi produk ini: siapa yang akan membelinya dalam volume besar?
CEO Snap: Ini Bukan Kacamata Biasa, Ini Komputer
Dalam wawancara dengan CNBC pada hari peluncuran, CEO Snap Evan Spiegel tampil mengenakan Spectacles dan membela harga tersebut. “Cara paling tepat untuk melihat Spectacles adalah sebagai sebuah komputer,” ujar Spiegel. “Harganya sebanding dengan komputer kelas atas atau laptop premium lainnya.”
Spiegel juga menekankan posisi unik Spectacles di pasar AR. Menurutnya, produk ini menggabungkan dua hal yang jarang ditemukan dalam satu perangkat: desain yang ringan dan nyaman dipakai seperti kacamata biasa, namun dengan kemampuan komputasi imersif yang mumpuni. “Perangkat ini sangat wearable tapi juga sangat mumpuni untuk komputasi imersif,” klaimnya.
Pasar AR Indonesia: Masih Niche, Tapi Potensial
Bagi pasar Indonesia, harga Spectacles yang setara dengan satu unit laptop gaming kelas atas jelas menjadi penghalang besar. Belum lagi ketersediaan resmi yang belum diumumkan untuk Asia Tenggara. Saat ini, perangkat AR kelas atas seperti Apple Vision Pro juga belum masuk Indonesia secara resmi karena keterbatasan ekosistem dan regulasi.
Meski begitu, langkah Snap menunjukkan bahwa perlombaan di segmen AR glasses semakin serius. Meta, Apple, dan kini Snap sama-sama berlomba menciptakan perangkat yang bisa menggantikan smartphone suatu hari nanti. Pertanyaannya, seberapa cepat harga bisa turun ke level yang terjangkau oleh konsumen biasa?