SULAWESI UTARA — Paul Thomas Anderson merilis film konser berjudul Cameron Winter At Carnegie Hall yang tayang perdana di London Film Festival. Film berdurasi 1 jam 11 menit ini menampilkan vokalis Geese, Cameron Winter, tampil solo dengan grand piano di aula legendaris New York tersebut. Distribusi film ini ditangani oleh Mubi.
Paul Thomas Anderson menggarap film konser ini bersama Benny Safdie. Pendekatan yang dipilih berbeda dari film konser arus utama. Jika Martin Scorsese cenderung memperbesar skala saat menggarap dokumentasi pertunjukan musik, Anderson justru bergerak ke arah sebaliknya.
Pengaruh sutradara Jonathan Demme terasa jelas dalam karya ini. Meski begitu, Cameron Winter At Carnegie Hall tidak menyerupai dokumenter Talking Heads tahun 1984, Stop Making Sense. Film ini lebih mendekati promo New Order berjudul The Perfect Kiss yang digarap Demme pada 1985.
Siapa Cameron Winter dan Mengapa Carnegie Hall Penting
Cameron Winter adalah vokalis berusia 24 tahun dari band rock asal New York, Geese. Ia mengaku sebagai pengagum Leonard Cohen dan Bob Dylan. Pengaruh itu terlihat sejak awal pertunjukan.
Pertunjukan berlangsung sederhana: satu orang dan sebuah grand piano. Kesederhanaan bunyi ini kadang membuat film terasa sulit diikuti. Penonton bisa sukar membedakan kapan satu lagu berakhir dan lagu berikutnya dimulai, kecuali dari tepuk tangan penonton yang sudah memahami materi Winter.
Carnegie Hall sendiri berkapasitas lebih dari 3.000 kursi. Anderson merekam suasana aula tua itu dengan stok warna 35mm yang hangat, menghadirkan nuansa music-hall. Kontras dengan adegan penonton yang riuh dalam film konser Oasis terbaru, di sini penonton ditangkap sebagai massa yang kabur sekaligus individu-individu yang fokus.
Pendekatan Visual dan Naratif Anderson
Kamera terus mencari cara mengelilingi sang artis. Kadang memeriksanya dengan ketertarikan forensik seperti seorang dokter. Di lain waktu, kamera mendekat ke wajahnya seperti penggemar yang mengagumi.
Winter tampil licin dan sulit dibaca sepanjang film. Satu-satunya aksi showmanship-nya adalah berpura-pura meninggalkan panggung setelah 30 menit. Sulit menentukan apakah itu lelucon atau awal serangan panik yang berhasil diredam.
Pertunjukan dan encore berlangsung sedikit lebih dari satu jam. Adegan penonton memenuhi ruangan dan kemudian mengosongkannya menjadi pembuka dan penutup film. Di antara keduanya, film ini menjadi semacam interogasi atas sifat seni yang sangat personal.
Reaksi Penonton di London Film Festival
Pada pemutaran kedua di London Film Festival, seorang penonton wanita yang duduk tiga baris dari depan meninggalkan ruangan setelah lagu kedua baru dimulai. Musik Winter yang esoteris memang butuh selera khusus.
Meski demikian, film ini menawarkan rasa kebesaran acara. Lirik Winter yang unik, termasuk frasa seperti "Names are donuts on the sea", menuntut interpretasi dari pendengarnya.
Cameron Winter At Carnegie Hall diputar di London dan New York. Distributor Mubi menangani perilisannya. Durasi film tercatat 1 jam 11 menit.
Film ini bukan untuk penonton yang mencari hiburan konser konvensional. Anderson tampaknya tidak terlalu peduli apakah penonton menikmati pengalaman itu atau tidak. Bagi industri film Indonesia, karya semacam ini menunjukkan bahwa film konser bisa menjadi ruang eksperimen visual, bukan sekadar dokumentasi panggung.