SULAWESI UTARA — Film drama Serbia "Until the Day Ends" karya sutradara Jelena Maksimovi? resmi masuk kompetisi utama Festival Film Tokyo 2025 setelah tayang perdana di program Horizons Venice bulan lalu. Cerita film ini menyorot dua anak muda dengan ideologi berseberangan yang terikat setelah aksi pemberontakan di tengah gelombang protes mahasiswa di Belgrade. Sebelum Tokyo, film ini juga diputar di festival film Wina dan Hamburg.
Jelena Maksimovi? menulis sekaligus menyutradarai "Until the Day Ends", film fiksi panjang pertamanya setelah dua dokumenter "Taurunum Boy" (2019) dan "Homelands" (2020). Latar cerita diambil dari gelombang demonstrasi antipemerintah di Serbia pada awal 2025, yang dipicu tragedi tewasnya 16 orang akibat runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada tahun sebelumnya.
Sinopsis: Dua Anak Muda di Tengah Gejolak Belgrade
Film dibuka lewat satu long take panjang yang menyusuri lorong-lorong kampus universitas yang berubah jadi tempat berkumpul mahasiswa pengunjuk rasa. Di tengah suasana itu, kamera mengikuti Lena, aktivis mahasiswa berusia 20 tahun yang bulat menolak otoritas.
Pendirian Lena mendapat dukungan rekan-rekan kampusnya, tapi tidak di rumah. Kakaknya, Milan, seorang kanan garis keras, justru mengejeknya sebagai anak idealis. Dari lingkaran Milan inilah muncul Stefan, pemuda kelas pekerja 22 tahun yang mengikuti arus kelompoknya tanpa benar-benar yakin pada sikap pro-pemerintah.
Ketegangan keduanya memuncak saat demonstrasi. Lena dan Stefan terlibat dalam satu tindakan pembangkangan, melempar batu ke arah polisi hingga melukainya parah. Keduanya pun harus kabur dari kota untuk semalam.
Gaya Visual dan Pendekatan Naratif
Maksimovi? membawa gaya vérité jalanan dari latar dokumenternya ke narasi fiksi yang ringkas. Sinematografer Paul Spengemann mengambil gambar dengan kamera bergerak cepat, diselingi lens flare yang melimpah, mengikuti tempo napas dua tokoh utamanya yang terus menghindari aparat.
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Sebagian besar pemeran diisi aktor nonprofesional, memberi rasa docudrama yang dekat dengan realitas kerusuhan anak muda Eropa Timur saat ini. Salah satu momen paling mencuri perhatian secara sinematik adalah pengambilan gambar dari sudut pandang batu yang dilempar ke polisi.
Lena Trifunovi?, pendatang baru di layar lebar, memerankan Lena dengan fisik yang tegang dan tak terduga, bergantian antara karismatik dan keras kepala. Sementara Andrija Krivokapi? mengisi peran Stefan sebagai punk kelas pekerja yang rapuh di balik sikap kombatifnya.
Bukan Kisah Cinta Politik yang Rapi
Premis dua anak muda berseberangan ideologi sebenarnya berpotensi jadi perumpamaan politik yang manis soal "kenapa kita tidak bisa akur". Eksekusinya menolak jalan mudah itu. Tidak ada momen kapituasi besar atau pencerahan mendadak di antara Lena dan Stefan.
Ketertarikan di antara mereka tumbuh, tapi perbedaan politik tetap harus dicerna. Film ini menempatkan emosi dan kewajiban personal kadang berseberangan secara berantakan dengan idealisme sosial dan politik. Alurnya paling kencang di adegan demonstrasi, lalu melambat jadi dua-peran intim di paruh kedua.
Jejak di Festival Internasional
Setelah tayang perdana di program Horizons Festival Film Venice bulan lalu, "Until the Day Ends" melanjutkan perjalanan ke Wina dan Hamburg. Kini film tersebut masuk kompetisi utama Festival Film Tokyo, capaian yang menandai langkah Maksimovi? dari sirkuit festival dokumenter ke panggung fiksi internasional.
Bagi penonton Indonesia, film ini belum punya jadwal tayang komersial maupun platform streaming yang diumumkan. Pantau terus informasi festival dan distribusinya, karena karya seperti ini biasanya lebih dulu muncul di jajaran festival film Asia sebelum menemukan jalur edar luas.