SULAWESI UTARA — Forest Whitaker resmi bergabung sebagai produser eksekutif film dokumenter Boomerang Atomic garapan sutradara Rachid Bouchareb, menjelang pemutaran di DOC NYC pada November mendatang. Dokumenter ini mengupas uji coba bom atom pertama Prancis pada 13 Februari 1960 di dekat Reggane, Aljazair, saat negara itu masih dalam cengkeraman kolonialisme Prancis.
Aktor sekaligus produser peraih Oscar itu menyatakan ketertarikannya setelah menonton langsung karya dokumenter tersebut. Whitaker mengaku terkesan pada keaslian sejarah dan dampak emosional yang disajikan Bouchareb dalam film berdurasi pendek itu.
Alasan Whitaker Bergabung
Dalam pernyataannya, Whitaker menyebut dokumenter ini membuka matanya pada konsekuensi kemanusiaan dari uji coba bom atom di Aljazair. Ia menilai Bouchareb berhasil mengungkap penyalahgunaan uji coba nuklir beserta dampak jangka panjangnya bagi penduduk lokal dan tanah mereka.
"Saya terkesan dengan keaslian sejarah dan dampak emosional yang kuat. Dokumenter penting ini meninggalkan kesan mendalam bagi saya dan perlu ditonton," ujar Whitaker.
Ia menambahkan bahwa film ini memberi penerangan yang diperlukan tentang kehancuran yang terjadi, sekaligus membuat penonton merenungkan apa arti penggunaan senjata serupa dalam peperangan hari ini.
Rekam Jejak Uji Nuklir Prancis di Sahara
Boomerang Atomic menyoroti ledakan bom atom pertama Prancis yang terjadi pada 13 Februari 1960 di dekat kota terpencil Reggane, jantung Gurun Sahara, Aljazair. Saat itu, Aljazair masih berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis.
Bouchareb, sutradara berkebangsaan Prancis-Aljazair yang filmnya Days of Glory (2006) masuk nominasi Oscar, menelusuri dampak devastatif yang masih dirasakan penduduk lokal dan lingkungan lebih dari enam dekade kemudian. Kekuatan bom yang diledakkan di dekat Reggane tercatat empat kali lebih besar dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima.
Dokumenter ini dibangun sepenuhnya dari arsip negara Prancis. Gambar dan komentar yang ditampilkan merupakan materi asli yang diproduksi otoritas Prancis saat itu, tanpa narasi kontemporer, mengajak penonton menghadapi sejarah yang terekam kamera sekaligus realitas kemanusiaan yang berada di luar bingkai.
Bagian dari Proyek Lebih Besar
Boomerang Atomic merupakan bagian dari rangkaian karya Bouchareb seputar uji nuklir Prancis di Sahara Aljazair. Film pendek ini menjadi babak pertama yang akan dilanjutkan dengan Reggane, sebuah film fiksi yang kini dalam tahap pengembangan bersama koproduser Amerika dan Jepang.
Perpindahan dari dokumenter arsip ke fiksi itu bertujuan memberi suara kepada penduduk lokal, tentara, dan pekerja yang terpapar radiasi nuklir. Kedua film menyoroti konsekuensi lintas generasi dan lintas negara dari peristiwa yang nyaris terlupakan tersebut.
"Melalui dokumenter ini, saya ingin meninjau kembali uji nuklir Prancis di Reggane pada 13 Februari 1960: ledakan atom pertama Prancis di tanah Aljazair. Ini bukan sekadar menceritakan peristiwa sejarah, tetapi memberi suara pada gambar arsip dan komentarnya, sekaligus menyoroti konsekuensi kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan yang masih tersisa hingga kini," kata Bouchareb.
Jadwal Pemutaran dan Penghargaan
Pemutaran di DOC NYC menjadi bagian dari tur dunia Boomerang Atomic, yang perdana tayang di luar kompetisi Festival Film Venesia 2025. Sepanjang perjalanannya, film ini meraih Audience Award di Seoul International Eco Film Festival 2026.
Dokumenter ini juga dipresentasikan di Hiroshima oleh UNITAR, program Institut Pelatihan dan Penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada musim panas lalu. Acara itu digelar sebagai bagian dari peringatan jatuhnya bom atom pertama yang digunakan dalam perang di kota tersebut pada 6 Agustus 1945.
Whitaker dan Bouchareb sendiri pertama kali terhubung lewat film Two Men in Town (2014) yang tampil di kompetisi Berlinale. Dalam film itu, Whitaker berperan sebagai mantan narapidana yang berusaha mengubah hidupnya, beradu akting dengan Harvey Keitel sebagai sheriff pendendam.
Kolaborasi keduanya di Boomerang Atomic menambah bobot distribusi dokumenter ini di pasar internasional, terutama menjelang musim penghargaan akhir tahun.