SULAWESI UTARA — Seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (27), ditemukan tewas dengan kondisi gantung diri di rumahnya. Peristiwa ini mengguncang kalangan medis setempat, khususnya setelah terungkap bahwa almarhumah sempat mengungkapkan tekanan psikologis yang dialaminya selama bertugas.
Curhat Terakhir Sebelum Meninggal
Kepada seorang koleganya, dr. Icha mengaku mengalami kepanikan akibat perlakuan tidak menyenangkan dari senior di tempat kerjanya. "Saya panik, dibentak-bentak," demikian isi curahan hatinya yang kemudian beredar di kalangan rekan sejawat. Pengakuan ini menjadi salah satu petunjuk awal atas dugaan tekanan berat yang dihadapi almarhumah sebelum akhirnya mengakhiri hidup.
Tekanan di Lingkungan Kerja
Kasus ini membuka kembali diskusi tentang kondisi kerja tenaga kesehatan di daerah, khususnya dokter muda yang baru memulai karier. Beban kerja tinggi, hierarki ketat, dan minimnya dukungan psikologis kerap menjadi keluhan yang tidak tertangani. Hingga berita ini diturunkan, pihak rumah sakit tempat dr. Icha bertugas belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan perundungan atau tekanan yang dialami korban.
Pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa ini. Namun, dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban selain luka akibat jeratan.
Keluarga dan Rekan Berduka
Keluarga dr. Icha menyatakan syok dan kehilangan atas kepergiannya secara mendadak. Rekan-rekan sesama dokter di NTT pun menggelar doa bersama dan menyuarakan perlunya perbaikan sistem dukungan mental bagi tenaga kesehatan, terutama yang bertugas di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja medis. Sejumlah organisasi profesi dokter mendesak agar kasus ini diusut tuntas dan menjadi momentum evaluasi budaya kerja di fasilitas kesehatan tanah air.